SUKABUMI – Dini hari yang tenang di bulan Ramadhan mendadak berubah mencekam. Wilayah laut selatan Jawa Barat diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,4 pada Jumat (13/3/2026) pukul 02.18 WIB, tepat saat sebagian warga bersiap untuk melaksanakan sahur.
Pusat gempa berada di laut, tepatnya 121 kilometer tenggara Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Gempa Sukabumi ini terjadi pada kedalaman 53 kilometer, yang diklasifikasikan sebagai gempa dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan geser atau strike-slip,” jelas Plt Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, dalam keterangan resminya.
Baca Juga:Panggung Global Memanas, Menkeu Purbaya Buka Suara: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Perkasa!PSSI Masukkan Satu Nama Baru dalam Daftar Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia
Meski episenternya berada di laut, getaran gempa Sukabumi ini dirasakan sangat luas hingga ke sejumlah kota di Jawa Barat. Warga di Kabupaten Bandung, Garut, Tasikmalaya, hingga Pangandaran melaporkan merasakan guncangan yang cukup signifikan.
Berdasarkan laporan masyarakat dan pemodelan BMKG, berikut adalah wilayah dengan intensitas getaran tertinggi:
- Skala IV MMI (Getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah): Kecamatan Cidolog dan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.
- Skala III – IV MMI: Wilayah Tasikmalaya, Garut, serta sejumlah kecamatan di Cianjur Selatan seperti Cijati, Pagelaran, Sukanegara, Agrabinta, Sindangbarang, Cidahu, Cimanggu, Campaka, Jampang Tengah, Kadupandak, dan Tegalbuleud.
- Skala III MMI (Getaran nyata dalam rumah seperti truk berlalu): Bayah, Klapanunggal, dan wilayah Kabupaten Bandung.
- Skala II – III MMI: Pangandaran dan Ciamis.
BMKG menegaskan bahwa meskipun getaran gempa Sukabumi ini dirasakan hingga radius yang cukup jauh, hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.
“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang. Hingga pukul 02.50 WIB, belum terdeteksi adanya aktivitas gempa susulan (aftershock),” tegas Rahmat.
Pihak BMKG juga mengingatkan warga agar tidak mudah terpengaruh oleh isu atau berita bohong (hoax) seputar gempa dan tsunami. Informasi resmi dan terpercaya hanya dapat diakses melalui kanal komunikasi resmi BMKG.
Getaran yang membangunkan warga dari tidur ini menjadi pengingat bahwa wilayah selatan Jawa, termasuk Sukabumi, memang merupakan kawasan rawan gempa. Dengan kedalaman dangkal dan mekanisme geser, gempa Sukabumi kali ini menjadi catatan penting bagi warga untuk selalu waspada namun tetap tenang menghadapi potensi bencana geologi di masa mendatang. (red)
