JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan kepastian bahwa pagu anggaran untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan mengalami pemotongan. Meski demikian, ia menegaskan komitmennya untuk melakukan efisiensi dengan cara menghapus pos-pos belanja yang dinilai tidak produktif.
Purbaya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anggaran tidak produktif adalah alokasi dana yang tidak memiliki kaitan langsung dengan kebutuhan inti atau utama dari program MBG tersebut. Sebagai ilustrasi, ia menyebut usulan pengadaan kendaraan bermotor yang diajukan secara berulang bakal masuk dalam daftar coret.
“Anggaran MBG tidak akan kita kurangi, yang akan kita eliminasi hanyalah komponen yang tidak produktif. Maksudnya bagaimana? Sederhana saja. Kalau ada yang mengusulkan pembelian motor lagi, itu kita coret. Begitu pula dengan pengadaan komputer lagi. Intinya, pos-pos yang tidak esensial dan tidak bersentuhan langsung dengan penyediaan makanan akan kita hapus,” tegasnya saat ditemui di kawasan Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta Pusat, pada Senin (9/3/2026).
Baca Juga:Dua Penggawa Serie A Perkuat Skuad Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Begini Tanggapan Media ItaliaPersib Kokoh di Puncak, Hajar Persik 3-0
Lebih lanjut, ia menekankan arahan pemerintah agar program MBG dapat dijalankan dengan prinsip efektivitas dan efisiensi yang tinggi. Pemerintah ingin memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi sasaran program.
“Kami tidak memangkas anggaran MBG, tapi kami akan memastikan seluruh belanja di dalamnya benar-benar efektif dan efisien,” ujar Purbaya.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya usai melakukan peninjauan langsung ke Pasar Tanah Abang. Kunjungan ini bertujuan untuk memverifikasi kondisi riil daya beli masyarakat di tengah beragam opini yang menyebutkan adanya pelemahan ekonomi nasional.
Purbaya merasa perlu untuk mengonfirmasi kondisi faktual di lapangan setelah sejumlah ekonom menyuarakan kekhawatiran tentang lesunya daya beli yang tercermin dari sepinya pasar tradisional. Padahal, data yang dipegangnya justru mengindikasikan keadaan yang berkebalikan.
“Belakangan ini banyak ekonom yang berpendapat kita sudah masuk resesi, daya beli masyarakat runtuh, dan pasar tradisional seperti Tanah Abang ini ditinggalkan pembeli. Saya ingin melakukan pengecekan langsung, karena data internal kami justru menunjukkan perekonomian sedang dalam tren positif. Seharusnya, di pusat-pusat perdagangan seperti Tanah Abang ini tetap ramai. Saya hanya ingin memastikan, mana yang benar,” ungkapnya.
