TEHERAN – Majelis Pakar Iran resmi menunjuk Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ketiga, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dinyatakan syahid setelah memimpin selama 37 tahun. Pengumuman ini muncul di tengah eskalasi konflik yang mengancam stabilitas kawasan.
Dalam pernyataan resmi pada Ahad (8/3/2026) malam, Majelis Pakar menegaskan bahwa proses transisi dilakukan secara kilat untuk mengisi kekosongan kekuasaan. “Terlepas dari kondisi perang dan ancaman langsung dari musuh, Majelis tidak membuang waktu untuk memenuhi tugas konstitusionalnya,” tulis pernyataan Majelis yang dikutip kantor berita Tasnim.
Profil Sang Penerus
Mojtaba Khamenei, pria kelahiran Mashhad 8 September 1969, bukanlah figur baru dalam struktur kekuasaan Teheran. Ia memiliki rekam jejak militer dan religius yang kuat:
Baca Juga:Sambut Lebaran 2026, BI Cirebon Siapkan Uang Baru Rp3,89 Triliun​Longsor TPST Bantargebang: 4 Tewas, 10 Orang Diduga Masih Tertimbun
Latar Belakang Militer: Bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada 1987 dan bertempur di garis depan Perang Iran-Irak.
Kedalaman Ilmu: Menempuh pendidikan di pesantren Qom dan mengajar kursus tingkat lanjut (Kharij Fiqh), sebuah jenjang yang biasanya hanya diampu oleh ulama Syiah paling senior.
Koneksi Politik: Memiliki pengaruh besar di lingkaran dalam IRGC dan jajaran ulama terkemuka sejak awal abad ke-21.
Bayang-bayang Ancaman Israel dan AS
Penunjukan Mojtaba terjadi pada titik nadir sejarah Republik Islam yang kini berusia 47 tahun. Melansir Al Jazeera, ia kini memikul beban berat untuk menavigasi Iran melewati krisis eksistensial terbesar.
Situasi kian memanas setelah militer Israel mengeluarkan ancaman terbuka untuk membunuh siapa pun yang menduduki kursi pengganti Khamenei. Sementara itu, dari Washington, Donald Trump memberikan pernyataan keras yang memicu kemarahan Teheran.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama,” tegas Trump dalam wawancara dengan ABC News.
Perlawanan Diplomatik Teheran
Menanggapi tekanan internasional tersebut, para pejabat Iran dengan tegas menolak campur tangan pihak luar. Teheran menegaskan bahwa pemilihan pemimpin adalah kedaulatan penuh rakyat Iran dan mekanisme internal Majelis Pakar.
Baca Juga:Panglima TNI Tetapkan Status Siaga 1, Seluruh Objek Vital Nasional Dijaga KetatSilaturahmi dengan HMI, KDM Tegaskan Pentingnya Jati Diri Bangsa
Kini, dunia menunggu langkah pertama Mojtaba Khamenei. Apakah ia akan mengambil jalur konfrontasi total menghadapi ancaman pemusnahan yang dilontarkan Trump, atau menemukan celah diplomasi di tengah kepungan sanksi dan serangan militer.(rif/dbs)
