CIREBON – Kondisi infrastruktur di Desa Gagasari, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, kian memprihatinkan. Jalan poros yang menjadi akses utama menuju Pondok Pesantren Gedongan di Desa Ender kini rusak parah, diperparah dengan tumpukan sampah yang meluber hingga menutup sebagian badan jalan.
Pantauan di lapangan menunjukkan jalan tersebut dipenuhi lumpur dan lubang akibat hujan yang terus mengguyur beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat kendaraan roda dua maupun roda empat kesulitan melintas. Tak hanya warga, para santri yang setiap hari menuju Pondok Pesantren Gedongan juga ikut terdampak.
Masalah semakin kompleks karena lokasi jalan tersebut berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Desa Gagasari. Tumpukan sampah yang tidak terangkut secara rutin kini menggunung dan menebarkan bau tak sedap, bahkan sebagian sudah meluber ke badan jalan.
Baca Juga:Mojtaba Khamenei Terpilih Sebagai Pemimpin Tertinggi Baru IranSambut Lebaran 2026, BI Cirebon Siapkan Uang Baru Rp3,89 Triliun
Lonjakan Sampah Saat Ramadan
Kuwu Desa Gagasari, Tamam Haryanto, mengungkapkan bahwa lonjakan volume sampah terjadi sejak memasuki bulan Ramadan. Meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat menyebabkan jumlah sampah yang masuk ke TPS melonjak tajam.
Menurut Tamam, desa sebenarnya sudah memiliki kontrak pengangkutan sampah sebanyak lima kali dalam sebulan. Namun frekuensi tersebut dinilai tidak lagi mencukupi untuk menampung volume sampah yang terus bertambah.
“Selama Ramadan konsumsi masyarakat meningkat, otomatis sampah juga bertambah. Sementara pengangkutan hanya lima kali dalam sebulan, itu sudah tidak mampu menampung volume yang ada. Akibatnya sampah menumpuk dan sampai meluber ke jalan menuju Ponpes Gedongan,” ujar Tamam.
Infrastruktur Tersendat Akibat Pemangkasan Anggaran
Selain persoalan sampah, kerusakan jalan yang belum tertangani juga dipicu keterbatasan anggaran desa. Tamam mengungkapkan, Dana Desa yang sebelumnya direncanakan untuk pembangunan infrastruktur justru mengalami pemangkasan karena dialihkan untuk program Koperasi Desa Merah Putih.
Akibatnya, sejumlah rencana pembangunan jalan di desa terpaksa tertunda. Bahkan hingga kini masih ada enam titik jalan gang di Dusun 1, Dusun 2, dan Dusun 3 yang belum tersentuh pembangunan sama sekali.
“Dana Desa yang semula direncanakan untuk perbaikan jalan akhirnya dipangkas untuk program koperasi. Dampaknya pembangunan jalan di desa kami praktis terhenti. Banyak titik yang masih berupa tanah dan belum bisa dikerjakan,” jelasnya.
