Jika seluruh waktu puasa kita habiskan hanya untuk menatap layar, bukankah kita sedang “menidurkan” kesadaran spiritual kita? Sayyid Abdullah Al-Haddad pernah mengingatkan agar umat Islam tidak terlalu terhanyut dalam urusan duniawi yang fana selama bulan suci ini. Beliau menekankan bahwa:
Ramadhan adalah momentum emas untuk memfokuskan diri pada Sang Pencipta, bukan justru tenggelam dalam kesia-siaan yang membuat hati menjadi lalai.
Bermain game seharian mungkin membuat waktu terasa cepat berlalu, namun ia juga berisiko mengikis pahala kesabaran dan zikir yang seharusnya kita tuai. Puasa bukan sekadar “menunggu waktu makan tiba” dengan cara apapun, melainkan tentang bagaimana kita mengisi kekosongan perut dengan kekayaan spiritual seperti membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, atau memperbanyak ibadah sunnah lainnya.
Baca Juga:Pembiayaan Pinjol Tembus Rp 98 Triliun, Rakyat Indonesia Tercekik Bunga dan Utang BeruntunDPRD Kab Cirebon Perkuat Perlindungan Pekerja Migran: Dari Berangkat hingga Pulang
Kesimpulan: Bijak Mengatur Ritme
Jadi, apakah boleh bermain game saat puasa? Jawabannya: Boleh, tapi jangan kebablasan. Jadikan gaming sebagai sarana istirahat sejenak—mungkin satu atau dua pertandingan setelah Anda menyelesaikan target bacaan Al-Qur’an atau tugas pekerjaan. Jangan sampai niat awal untuk “ngabuburit” justru membuat Anda kehilangan momen-momen mustajab untuk berdoa di penghujung hari.
Bijaklah dalam membagi waktu antara dunia virtual dan investasi akhirat. Biarkan rank Anda naik, tapi pastikan kualitas takwa Anda naik jauh lebih tinggi. (red)
