JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan silaturahmi sekaligus buka puasa bersama sejumlah ulama dan tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (5/2/2026). Di balik agenda rutin tersebut, pertemuan ini menjadi panggung diskusi krusial mengenai posisi diplomatik Indonesia di tengah eskalasi konflik Iran pasca-serangan Amerika Serikat (AS).
Sederet tokoh besar tampak hadir memenuhi undangan, di antaranya Mamah Dedeh (Dedeh Rosidah), Nabil bin Fuad Al Musawa (Ketua Dewan Pembina Majelis Rasulullah Pusat), Buya Yahya, Subky Al Bughuri, hingga Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
“Kalau di sini, alhamdulillah untuk buka puasa bersama. Undangannya silaturahmi dan buka puasa bersama,” ujar Subky Al Bughuri saat ditemui di lokasi.
Baca Juga:Darurat Mental Anak: 9 Menteri Bersatu Teken SKB Lintas SektoralKPK Jerat Bupati Pekalongan dengan Pasal 'Langka' dalam Sejarah OTT
Polemik Keanggotaan Board of Peace (BoP)
Isu utama yang mencuat dalam pertemuan tersebut adalah efektivitas keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), dewan perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump. Gus Yahya menekankan agar Indonesia tetap memanfaatkan instrumen yang ada untuk mengupayakan perdamaian dunia, sesederhana apa pun alat tersebut.
“Ya kita cari caranya memanfaatkan BoP untuk upaya perdamaian itu gitu. Apa pun yang sudah ada di tangan ini mari kita gunakan. Kalau kita butuh menggali lubang ndak ada skop, punyanya sendok, kita gali pakai sendok gitu. Kira-kira gitulah,” kata Yahya. Ia menambahkan, “Jangan ada yang walaupun kelihatannya lemah lalu sesuatu yang sebetulnya bisa digunakan kita buang, ndak begitu caranya. Kita gunakan apa pun karena kepentingan untuk perdamaian itu absolut.”
Pandangan berbeda datang dari tokoh MUI, Cholil Nafis, yang menyuarakan agar Indonesia segera angkat kaki dari BoP. Menurutnya, lembaga tersebut kehilangan kredibilitas setelah AS melakukan serangan ke Iran.
“Saya kira soal BoP juga sama. Kita minta ini tidak efektif ya keluar saja,” tegas Cholil. Ia menyarankan pemerintah lebih memaksimalkan peran melalui PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). “Kita berharap juga ini bisa menciptakan perdamaian dengan memaksimalkan peran PBB dan OKI karena semua akan rugi kalau ini perang terus berlangsung,” sambungnya.
