TEHERAN – Kabar burung mengenai kematian mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) lalu, resmi berakhir sebagai spekulasi kosong. Tokoh konservatif tersebut muncul di hadapan publik pada Rabu (4/3/2026) dalam kondisi sehat tanpa luka sedikit pun.
Kemunculan Ahmadinejad ini menjadi pukulan telak bagi narasi sejumlah media Barat yang sebelumnya gencar melaporkan bahwa sang mantan presiden ikut menjadi korban jiwa dalam eskalasi konflik yang memanas di wilayah tersebut.
Lolos dari Upaya Pembunuhan
Meski membantah kabar kematian, laporan dari situs berita Iranintl mengungkap fakta yang tak kalah menegangkan. Ahmadinejad dikabarkan bukan sekadar selamat dari ledakan bom, melainkan berhasil lolos dari upaya pembunuhan terencana yang dilancarkan di tengah kekacauan gempuran udara tersebut.
Baca Juga:Buka Puasa di Istana: Prabowo dan Tokoh Islam Bedah Posisi Indonesia di Tengah Konflik GlobalDarurat Mental Anak: 9 Menteri Bersatu Teken SKB Lintas Sektoral
Ajudan terdekatnya mengkonfirmasi bahwa Ahmadinejad dalam keadaan bugar dan tidak mengalami cedera apa pun. Pernyataan ini sekaligus membungkam rumor yang sempat mengguncang ketegangan geopolitik Timur Tengah selama sepekan terakhir.
Momen Haru di Pemakaman Syuhada
Alih-alih memberikan klarifikasi melalui studio televisi yang kaku, Ahmadinejad memilih cara yang lebih simbolis untuk menunjukkan eksistensinya. Ia hadir langsung di area pemakaman warga Iran yang tewas akibat serangan AS-Israel untuk memberikan penghormatan terakhir kepada para korban yang disebut sebagai syuhada.
Dalam unggahan video yang viral melalui akun X (Twitter) Pengamat Iran, Ahmadinejad tampak berjalan tegap tanpa bantuan alat medis apa pun. Kehadirannya yang tiba-tiba di tengah kerumunan pelayat mengubah suasana duka menjadi gelombang emosi yang meluap.
”Warga yang hadir tak kuasa menahan tangis haru saat melihat mantan pemimpin mereka berdiri tegak di hadapan mereka,” tulis laporan tersebut.
Massa yang memadati lokasi langsung merangsek maju untuk menyalami dan memeluk Ahmadinejad. Bagi rakyat Iran, kemunculannya di tengah ancaman perang yang membayangi bukan sekadar klarifikasi atas hoaks, melainkan menjadi simbol resiliensi dan injeksi moral yang masif di tengah masa duka nasional. (rif/dbs)
