Pohon Pisang Tumbuh di Aspal Kanci–Sindanglaut, Jadi Simbol Putus Asa Warga

Jalan rusak kanci cirebon
Warga melakukan aksi protes dengan menanam pohon pisang di jalan rusak berlubang antara Kanci - Sindanglaut, Kab. Cirebon.
0 Komentar

CIREBON – Pemandangan tak lazim menyapa para pengguna jalan yang melintasi ruas penghubung Kanci–Sindanglaut, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, pagi ini. Alih-alih melihat arus lalu lintas yang lancar, masyarakat justru disuguhi deretan pohon pisang yang berdiri tegak di tengah badan jalan sebagai simbol perlawanan dan puncak kekecewaan warga Desa Kanci terhadap lambatnya respons pemerintah daerah dalam membenahi infrastruktur yang kian memprihatinkan.

​Aksi teatrikal menanam pohon di kubangan jalan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah jeritan visual atas kondisi aspal yang kini lebih menyerupai aliran sungai kering dengan lubang-lubang menganga yang memiliki kedalaman bervariasi dan sangat mengancam nyawa. Warga setempat menilai bahwa membiarkan kerusakan ini berlarut-larut sama saja dengan membiarkan maut mengintai setiap pengendara, khususnya para pengguna sepeda motor yang harus bertarung nyawa demi menghindari jebakan maut di sepanjang jalur vital tersebut.

​”Kami sudah lelah hanya diberi janji. Pohon pisang ini adalah peringatan agar pemerintah sadar bahwa jalan ini digunakan oleh manusia, bukan sekadar pelengkap peta wilayah.” Ujar salah satu warga Kanci yang jengah melihat kondisi jalan.

Baca Juga:Presiden Prabowo Pimpin Penghormatan Terakhir untuk Try Sutrisno di TMP KalibataKapolri Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Wapres ke-6 RI Try Sutrisno

​Situasi kian mengkhawatirkan ketika intensitas hujan mulai meningkat, di mana lubang-lubang besar di badan jalan tersebut tertutup sempurna oleh genangan air keruh yang menipu pandangan mata setiap pengendara yang melintas. Tak pelak, kondisi “ranjau air” ini telah berulang kali memicu kecelakaan lalu lintas, mulai dari kendaraan yang terperosok hingga mengakibatkan luka fisik serius bagi masyarakat yang terpaksa menggunakan akses tersebut karena tidak adanya jalur alternatif yang memadai.

​Ironisme jalur utama di wilayah timur Kabupaten Cirebon ini semakin lengkap dengan masalah banjir tahunan yang kerap melumpuhkan mobilitas warga akibat luapan air dari saluran irigasi yang sudah tidak mampu lagi menampung debit air secara normal. Parahnya, drainase di sisi jalan tersebut kini tersumbat oleh deretan bangunan liar yang berdiri kokoh di atas bantaran saluran, sehingga menghambat aliran air dan mempercepat laju kerusakan struktur aspal yang sudah rapuh akibat terus-menerus terendam banjir. (rif/dbs)

0 Komentar