Ekonom Jeffrey Sachs: Konflik AS-Iran Bukan Soal Nuklir, Melainkan Hegemoni Regional

Jeffrey Sachs, Ekonomi AS
Jeffrey Sachs: Konflik AS-Iran Bukan Soal Nuklir, tapi Kepentingan Regional
0 Komentar

WASHINGTON – Ekonom ternama Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan luar negeri Washington di Timur Tengah. Sachs menilai ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran saat ini bukan didasari oleh ancaman senjata nuklir, melainkan murni demi menjaga hegemoni regional Israel.

​Dalam pernyataannya melalui Analyst News yang dikutip pada Ahad (1/3/2026), Sachs menegaskan bahwa isu nuklir sering kali hanya dijadikan dalih untuk menutupi akar persoalan geopolitik yang lebih dalam. Ia secara eksplisit menyebutkan bahwa konfrontasi terhadap Iran tidak merepresentasikan kepentingan nasional Amerika Serikat yang sebenarnya.

​”Ini bukan tentang senjata nuklir. Ini tentang hegemoni regional Israel di Timur Tengah. Israel ingin menjatuhkan rezim Iran, titik,” ujar Sachs.

Baca Juga:Mulai 1 Januari 2026, Pajak Kendaraan Plat Kuning di Jabar TurunPohon Pisang Tumbuh di Aspal Kanci–Sindanglaut, Jadi Simbol Putus Asa Warga

​Sachs menyoroti bahwa narasi Washington mengenai pencegahan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran tidak sepenuhnya akurat. Ia mengingatkan kembali pada perjanjian nuklir Iran yang sebelumnya telah berhasil dinegosiasikan secara diplomatis, namun justru dibatalkan secara sepihak di era Presiden Donald Trump.

​“Gagasan bahwa ini untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir, itu sudah dinegosiasikan. Trump yang membatalkannya,” katanya menambahkan.

​Menurut pengamatan Sachs, Teheran telah berulang kali menyampaikan keinginan untuk kembali ke meja perundingan. Namun, ia menilai AS enggan menyambut niat tersebut karena adanya pengaruh kuat dari kebijakan pemerintah Israel terhadap dinamika politik di Washington.

​“Amerika Serikat tidak menerima ‘ya’ sebagai jawaban karena ini bekerja untuk pemerintah Israel. Ini intinya,” tegas Sachs.

​Lebih lanjut, Sachs mempertanyakan mengapa kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah selalu selaras dengan kepentingan Israel selama berdekade-dekade. Ia menduga adanya faktor tekanan kelompok kepentingan serta dinamika politik domestik yang mendikte langkah AS di kawasan tersebut.

​”AS tidak punya kepentingan apa pun untuk menghubungi Iran saat ini. Jika perang itu terjadi, itu karena Israel mengatakan kepada Amerika Serikat apa yang harus dilakukan,” cetusnya.

​Pernyataan kontroversial ini muncul di tengah eskalasi ketegangan yang meningkat pasca-aksi saling balas serangan militer antara kedua belah pihak. Situasi ini telah memicu alarm kewaspadaan di pasar global, mengingat konflik terbuka di kawasan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dan memicu lonjakan inflasi serta kerusakan ekonomi dunia secara luas. (rif/dbs)

0 Komentar