TPPO “Pengantin Pesanan” di Cirebon: Vina Terjebak di Tiongkok

Vina korban TPPO
Vina, warga Cirebon yang menjadi korban TPPO dengan modus Pernikahan Internasional. (foto kanan)
0 Komentar

CIREBON – Praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus “pengantin pesanan” kembali memakan korban. Kali ini, menimpa Vina, seorang perempuan asal Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, yang kini terjebak di Tiongkok dalam kondisi memprihatinkan.

Kisah pilu Vina mencuat setelah video testimoninya viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Vina tampak tertekan dan memohon bantuan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar dipulangkan ke tanah air. Ia mengaku menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh sesama Warga Negara Indonesia (WNI).

Kuasa hukum keluarga, Asep Maulana Hasanudin, mengungkapkan bahwa Vina dijebak untuk menandatangani sejumlah dokumen yang tidak ia pahami. Belakangan diketahui dokumen tersebut merupakan berkas perjanjian pernikahan hingga terbitnya buku nikah resmi.

Baca Juga:Langit Ramadhan 1447 H Akan Dihiasi Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026Marc Marquez Kena Penalti di Sprint MotoGP Thailand 2026, Ducati Protes Kemenangan Acosta

“Vina diarahkan menandatangani berkas yang ia kira dokumen kerja, namun ternyata administrasi pernikahan. Sejak saat itu, ruang geraknya dibatasi total. Ia dilarang keluar rumah, selalu diawasi, dan paspornya ditahan,” ujar Asep kepada awak media.

Tak hanya kehilangan kebebasan, Vina dilaporkan mengalami kekerasan fisik dan pemaksaan hubungan seksual. Bahkan, mertua perempuannya di Tiongkok diduga turut melakukan penganiayaan terhadap korban.

Kendala Administrasi dan Respons Pemerintah

Meski keluarga telah melapor ke Mabes Polri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), proses pemulangan terhambat status hukum. Mengingat buku nikah telah terbit dan dianggap sah oleh otoritas Tiongkok, Vina secara administratif tercatat sebagai istri sah warga setempat, bukan korban penyekapan.

Menanggapi jeritan warganya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk membawa Vina pulang. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Safari Ramadan di Desa Kedungmulya, Kecamatan Kedawung, Sabtu malam (28/2/2026).

“Saya sudah menerima laporannya. Kita akan tempuh jalur diplomasi dan koordinasi lintas sektoral. Prinsipnya, negara harus hadir. Kita akan upayakan Vina segera kembali ke Cirebon dalam keadaan aman,” tegas Dedi.

Langkah cepat Dedi Mulyadi bukan yang pertama. Pekan lalu, ia baru saja menjemput 13 warga Jawa Barat yang menjadi korban TPPO di Maumere, NTT, untuk dipulangkan ke daerah asal mereka.

0 Komentar