“I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu.”Sontak, pernyataan tersebut viral dan memicu debat panas di media sosial. Warganet menyoroti etika DS sebagai awardee LPDP yang dianggap tidak selaras dengan misi pengabdian beasiswa tersebut.
Rekam Jejak Pendidikan dan Kontribusi yang Tercederai
Secara akademis, Dwi Sasetyaningtyas memiliki profil yang cemerlang. Lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berhasil meraih beasiswa LPDP pada 2015 untuk studi magister di Delft University of Technology, Belanda, di bidang Sustainable Energy Technology dan lulus pada 2017.
Sebenarnya, selama masa pengabdian tahun 2017–2023, DS tercatat cukup aktif dalam berbagai kegiatan sosial di Indonesia, antara lain:– Inisiasi penanaman 10.000 pohon bakau di wilayah pesisir.
– Pemberdayaan ekonomi ibu rumah tangga.
Baca Juga:Jalan Baru Jadi Tempat Berlabuh: Pesona Jalur Tonjong–Leuwiasem Kini Makin ViralPatroli Ramadan Ditingkatkan, Polsek dan Pemdes Babakangebang Antisipasi Bentrok Suporter
– Aksi kemanusiaan penanggulangan bencana di Sumatera dan pembangunan sekolah di NTT.
Namun, pencapaian dan kontribusi tersebut kini dibayangi oleh polemik komitmen kewarganegaraan dan etika komunikasi publik. Kasus ini pun berkembang menjadi diskusi nasional mengenai urgensi pengawasan ketat terhadap kontrak pengabdian alumni beasiswa negara agar kontribusi yang diberikan bersifat jangka panjang dan berkelanjutan bagi Indonesia. (red/dbs)
