CIREBON – Memasuki bulan Ramadan, pola pengeluaran masyarakat biasanya ikut berubah. Aktivitas berbuka puasa, meningkatnya belanja makanan, hingga persiapan Hari Raya Idulfitri sering membuat pengeluaran rumah tangga melonjak. Jika tidak diatur dengan baik, kondisi ini dapat membuat keuangan keluarga justru bermasalah setelah Lebaran.
Fenomena ini bukan hal baru. Banyak keluarga yang tanpa sadar menjadi lebih konsumtif selama Ramadan. Mulai dari kebiasaan membeli takjil berlebihan, seringnya buka bersama di luar rumah, hingga belanja pakaian baru untuk seluruh anggota keluarga. Padahal secara filosofi, Ramadan justru mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam hal konsumsi dan keuangan.
Pengamat keuangan keluarga menyarankan agar masyarakat mulai menyusun prioritas pengeluaran sejak awal Ramadan. Hal pertama yang harus dijaga adalah kebutuhan pokok harian keluarga seperti makanan, kesehatan, transportasi, dan pendidikan anak. Kebutuhan ini merupakan fondasi utama rumah tangga sehingga tidak boleh terganggu oleh pengeluaran musiman.
Baca Juga:Proliga Putri 2026 Makin Panas! Livin Mandiri Menang, Komposisi Top Four Berubah DrastisIsu Produk AS Bebas Masuk Tanpa Sertifikasi Halal? Seskab Teddy Buka Fakta Sebenarnya
Setelah itu, kewajiban finansial seperti membayar cicilan, listrik, air, hingga internet juga perlu menjadi prioritas. Tagihan rutin yang diabaikan hanya akan menimbulkan denda atau masalah keuangan baru di kemudian hari. Karena itu, banyak perencana keuangan menyarankan agar tagihan dibayarkan terlebih dahulu sebelum mengalokasikan dana untuk kebutuhan lainnya.
Di bulan Ramadan, ada pula kewajiban keagamaan yang perlu dipersiapkan sejak awal, seperti zakat fitrah maupun sedekah. Dengan memisahkan anggaran untuk zakat lebih awal, masyarakat bisa menjalankan kewajiban ibadah dengan tenang tanpa mengganggu kebutuhan lain.
Sementara itu, kebutuhan Lebaran seperti membeli pakaian baru, menyiapkan hampers, atau biaya mudik sebenarnya berada pada prioritas berikutnya. Banyak orang keliru menempatkan pos ini sebagai pengeluaran utama, padahal secara finansial hal tersebut bersifat tambahan. Para ahli keuangan menyarankan agar kebutuhan Lebaran idealnya menggunakan dana khusus seperti Tunjangan Hari Raya (THR), bukan dari dana kebutuhan harian atau bahkan dari utang.
Kondisi keuangan yang tidak terkendali biasanya dipicu oleh belanja impulsif. Diskon Ramadan dan promo menjelang Lebaran sering membuat orang membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Jika tidak disadari, kebiasaan ini dapat menguras tabungan dalam waktu singkat.
