CIREBON – Bulan Ramadan sering menjadi dilema bagi sebagian penderita diabetes. Di satu sisi ingin menjalankan ibadah puasa, namun di sisi lain ada kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan. Untuk menjawab kegelisahan itu, RSUD Waled menggelar edukasi khusus bagi pasien Diabetes Melitus agar tetap dapat berpuasa dengan aman.
Program bertajuk “Edukasi Puasa pada Pasien Diabetes Melitus” ini berlangsung di aula pelayanan rumah sakit dan dipandu oleh dokter spesialis penyakit dalam dr. Nihayatul Amaliyah. Suasananya terasa hangat sekaligus serius, karena banyak pasien datang dengan pertanyaan yang sama: bolehkah saya tetap berpuasa?
Menurut dr. Nihayatul, puasa bagi penderita diabetes sebenarnya memungkinkan, namun tidak bisa dilakukan tanpa persiapan medis. Kuncinya adalah mengenali kondisi tubuh dan memahami risiko sejak awal.Memahami Sinyal Tubuh Sejak DiniDalam pemaparannya, ia mengingatkan peserta untuk tidak mengabaikan gejala klasik diabetes yang dikenal dengan istilah 3P:
Baca Juga:Mensos Ingatkan Pendamping PKH Tak Terima 'Titipan' dalam Verifikasi Data PBI JKShinta Nuriyah Sapa Cirebon Timur, Pesan Toleransi Menggema Saat Buka Puasa
Poliuria – sering buang air kecil, Polidipsia – mudah haus, dan Polifagia – mudah lapar.
Gejala tersebut kerap disertai penurunan berat badan dan tubuh cepat lelah. Karena itu, pemeriksaan laboratorium menjadi langkah penting sebelum memutuskan berpuasa.
“Secara medis, seseorang dapat dikategorikan diabetes jika gula darah sewaktu mencapai 200 mg/dL atau gula darah puasa di angka 126 mg/dL,” jelasnya di hadapan peserta.
Tidak Semua Pasien Boleh Berpuasa
Salah satu bagian penting dalam edukasi ini adalah stratifikasi risiko. Artinya, dokter menilai kondisi pasien terlebih dahulu sebelum memberi rekomendasi.Pasien dengan risiko rendah umumnya masih dapat menjalankan puasa dengan pengawasan. Namun bagi kelompok risiko sangat tinggi—misalnya yang sering mengalami hipoglikemia berat, komplikasi serius, atau gangguan ginjal—puasa justru dapat membahayakan.
“Keselamatan pasien tetap prioritas. Jika kondisi tidak memungkinkan, maka tidak dianjurkan berpuasa,” tegas dr. Nihayatul.Strategi Makan dan Minum Saat RamadanSelain penjelasan medis, peserta juga mendapatkan panduan praktis yang langsung bisa diterapkan selama Ramadan.
Konsumsi cairan minimal dua liter antara waktu berbuka hingga sahur, Pilih karbohidrat kompleks saat sahur agar energi bertahan lebih lama, Hindari konsumsi gula berlebihan ketika berbuka, dan Tetap memantau kadar gula darah secara berkala. Langkah sederhana tersebut dinilai sangat membantu menjaga stabilitas gula darah selama puasa.
