CIREBON – Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ibu Negara ke-4 RI (1999–2001), dikenal sebagai aktivis perempuan, tokoh pluralisme, serta pejuang kesetaraan gender di Indonesia.
Istri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, itu lahir di Jombang, Jawa Timur, 8 Maret 1948. Ia merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara dan hingga kini aktif dalam berbagai kegiatan sosial, terutama pemberdayaan perempuan serta penguatan toleransi antarumat beragama.
Salah satu kegiatan yang konsisten ia lakukan adalah tradisi sahur keliling dan buka puasa bersama masyarakat lintas iman serta kelompok marjinal.
Baca Juga:RSUD Waled Sampaikan “Strategi Aman” Puasa bagi Penderita DiabetesMensos Ingatkan Pendamping PKH Tak Terima 'Titipan' dalam Verifikasi Data PBI JK
Dalam rangkaian kegiatan Ramadan, Shinta Nuriyah hadir di Cirebon untuk berbuka puasa bersama Forum Komunikasi Lintas Iman (Forkolim) di Gedung Dharma Hati Suci, Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jumat (20/2/2026).Kehadirannya disambut hangat masyarakat Cirebon Timur yang dikenal hidup berdampingan dalam keberagaman.
Salah satu unsur Forkolim dari komunitas HKBP, Ganda Sibuean, menilai Shinta Nuriyah mewarisi pemikiran Gus Dur yang nasionalis, pluralis, dan humanis.
“Bu Sinta ini mewarisi pemikiran Pak Gus Dur yang merangkul semua kalangan lintas agama. Pengaruhnya sangat besar bagi masyarakat. Kami berharap beliau selalu sehat dan perjuangannya dapat diteruskan,” ujarnya.
Sosok Pejuang Perempuan dan Kemanusiaan
Sinta Nuriyah dikenal luas sebagai tokoh yang aktif menyuarakan hak kelompok marginal serta isu kesetaraan gender.Ia menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Meski sempat mengalami kecelakaan pada 1992 yang membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah, aktivitas sosialnya tidak pernah berhenti.
Ia juga mendirikan Puan Amal Hayati, sebuah yayasan yang fokus pada pemberdayaan perempuan serta pendampingan korban kekerasan.Selama lebih dari dua dekade, ia rutin mengadakan sahur bersama kelompok marjinal seperti buruh, pemulung, pedagang kecil, hingga masyarakat lintas agama sebagai simbol persaudaraan dan kemanusiaan.
Pengakuan Internasional
Perjuangannya juga mendapat perhatian dunia. Ia masuk dalam daftar perempuan berpengaruh versi The New York Times (2017) serta termasuk dalam daftar 100 tokoh paling berpengaruh versi Time (2018).Sosoknya kerap dipandang sebagai figur yang merawat persatuan dan toleransi di Indonesia, bahkan dijuluki banyak kalangan sebagai Mother of the Nation.
