JABARPUBLISHER.COM – Gelombang perpindahan Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia ke Super League tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola nasional. Situasi ini memunculkan tanda tanya besar, mengingat banyak dari mereka sebelumnya berkarier di liga luar negeri sebelum resmi membela Garuda.
Kini, satu per satu Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia memilih kembali ke kompetisi domestik. Bukan hanya mereka yang sudah berusia kepala tiga, tetapi juga pemain muda yang sebenarnya masih punya peluang mengembangkan karier di Eropa atau Asia Timur.
Fenomena ini memicu pro dan kontra. Sebagian pihak menilai langkah tersebut berpotensi menurunkan kualitas permainan, yang pada akhirnya bisa berdampak pada performa Timnas Indonesia. Di usia emas, para pemain dinilai seharusnya memperkaya pengalaman di luar negeri, bukan justru kembali ke Super League.
Baca Juga:Kontroversi Wasit Majed Mohammed Bikin Geram, Persib Bandung Resmi Layangkan Protes ke AFCJadwal Imsak Hari Pertama Puasa di Cirebon, Simak Tips Tetap Produktif
Pengamat sepak bola Bung Harpa menilai, ketika Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia sudah bermain di Super League, peluang untuk kembali berkarier di luar negeri akan semakin sulit. Ia kemudian mencoba mengurai alasan di balik tren perpindahan tersebut.
Menurut Bung Harpa, faktor gaji menjadi salah satu pertimbangan utama. Ia mencontohkan pengalaman Asnawi Mangkualam saat awal berkarier di Korea Selatan.
“Dia kasih sampel itu di Korea Selatan, kalau lu baru main itu gajinya bisa sepertiga di Liga 1 saat itu,” ungkap Bung Harpa, seperti dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Ruang Publik.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa tawaran finansial di Super League jauh lebih besar dan menggoda dibandingkan kompetisi luar negeri. Bagi sebagian Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia, stabilitas ekonomi tentu menjadi pertimbangan realistis.
Bung Harpa juga menyoroti sisi personal para pemain. “Kadang-kadang susah juga untuk beberapa orang mungkin dia punya keresahan, keresahan yang dari dulu mereka pikul misalnya mohon maaf dia belum punya rumah, mau naikin haji orang tuanya,” ujarnya.
“Nah tiba-tiba dia dapat tawaran gaji yang gede yang impian itu, keresahan itu bisa diselesaikan, ya susah juga menolak tawaran itu,” lanjutnya. Ia menilai publik tak bisa memaksakan kehendak agar para pemain tetap bertahan di luar negeri.
