JABARPUBLISHER.COM – Pergerakan harga emas kembali membuat pelaku pasar waswas. Setelah sempat mengalami lonjakan dan koreksi tajam dalam waktu singkat, kini harga emas bertahan di atas level psikologis US$5.000 per troy ons.
Data Refinitiv menunjukkan harga emas pada Senin (16/2/2026) pukul 06.24 WIB berada di level US$5.027,38 per troy ons atau turun tipis 0,29 persen. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat (13/2/2026), harga emas berada di posisi US$5.042,11 per troy ons, menguat 2,5 persen.
Meski sempat melonjak, secara mingguan harga emas masih terkoreksi sekitar 0,56 persen. Pekan lalu menjadi periode yang sangat fluktuatif. Dalam lima hari perdagangan, harga emas melonjak tiga kali dan terkoreksi tajam dua kali, bahkan sempat menyentuh area US$4.900.
Lonjakan Bersejarah dan Koreksi Tajam Harga Emas
Baca Juga:Sidang Isbat Besok Tentukan Awal Ramadan 1447 H, Potensi Perbedaan Awal Puasa MunculJam Kerja ASN Selama Ramadan 2026 Dipangkas, Ini Rincian Lengkap Durasi dan Jam Masuknya
Dua pekan terakhir tercatat sebagai salah satu fase paling dramatis dalam sejarah perdagangan logam mulia. Harga emas untuk pertama kalinya menembus US$5.000 dan bahkan sempat mendekati US$5.998 pada intraday.
Reli tersebut dipicu ketidakpastian geopolitik, aksi spekulatif besar, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global. Namun, euforia tidak bertahan lama. Harga emas berbalik arah dan sempat anjlok ke bawah US$4.400, mencatat koreksi sekitar 26 persen dari puncaknya.
Koreksi tajam ini memicu aksi deleveraging besar-besaran di pasar berjangka, opsi, dan ETF berbasis emas.
CME Naikkan Margin, Volatilitas Diredam
Lonjakan volatilitas harga emas membuat CME Group menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka emas dan perak Comex. Margin awal untuk profil risiko standar dinaikkan dari 6 persen menjadi 8 persen.
Langkah ini bertujuan meredam spekulasi berlebihan dan mengurangi risiko sistemik. Secara historis, kenaikan margin kerap menjadi sinyal fase pendinginan pasar, bukan awal tren bearish jangka panjang.
Permintaan Fisik Emas Tetap Kuat
Di tengah gejolak harga emas, permintaan fisik tetap solid. India mencatat kenaikan premi menjelang anggaran federal, sementara di China pembelian meningkat menjelang Tahun Baru Imlek.
Permintaan perhiasan dan investasi ritel membantu menopang harga emas ketika pasar berjangka berfluktuasi tajam. Faktor ini menjadi penyeimbang terhadap tekanan dari aksi spekulatif.
