LUMAJANG – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Sabtu (14/2/2026) pagi. Letusan yang terjadi sekitar pukul 06.27 WIB memicu awan panas guguran yang meluncur hingga enam kilometer ke arah tenggara.
Awan panas tersebut terpantau mengarah ke kawasan Besuk Kobokan, salah satu jalur aliran material vulkanik yang berhulu di puncak gunung.
Hingga saat ini, status Gunung Semeru masih berada di Level III atau Siaga. Status ini menandakan adanya peningkatan aktivitas yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat di sekitar lereng.
Baca Juga:Libur Ramadan 2026 Dimulai 18 Februari, Sekolah Dilarang Beri Tugas Berat ke SiswaResmi Dibuka! Begini Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 Lewat PINTAR, Jangan Sampai Ketinggalan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, membenarkan terjadinya erupsi tersebut. Ia menyebutkan bahwa jarak luncuran awan panas mencapai sekitar enam kilometer dari puncak.
Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dan termasuk salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas erupsi tercatat hampir setiap tahun dengan karakter letusan berupa guguran lava dan awan panas.
Pemerintah daerah bersama petugas pos pengamatan gunung api terus memantau perkembangan aktivitas. Pemantauan dilakukan secara visual maupun melalui alat seismograf untuk mendeteksi potensi erupsi susulan.
BPBD Lumajang mengimbau warga tidak beraktivitas dalam radius 13 kilometer dari puncak, terutama di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Area tersebut dinilai paling berisiko terdampak awan panas maupun aliran material vulkanik.
Selain awan panas, masyarakat juga diminta waspada terhadap kemungkinan guguran lava pijar. Ancaman lain yang perlu diperhatikan adalah banjir lahar hujan, terutama jika curah hujan tinggi mengguyur kawasan puncak.
Material vulkanik yang terbawa air hujan dapat mengalir deras melalui sungai-sungai berhulu di Semeru dan berpotensi merusak permukiman maupun infrastruktur di hilir.
Sejumlah desa di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro termasuk wilayah yang selama ini masuk zona rawan bencana. Aparat desa diminta aktif menyampaikan informasi perkembangan aktivitas gunung kepada warganya.
Baca Juga:Kejutan di All England 2026! Tiga Debutan Siap Buktikan Diri, Indonesia Turunkan 13 WakilCahaya Al-Qur’an Terangi Tembesi, Sukses Jadi Tuan Rumah MTQH ke-34 Sagulung
Petugas juga mengingatkan warga agar tidak terpancing untuk mendekat demi melihat aktivitas erupsi secara langsung. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat erupsi pagi tadi. Namun, otoritas tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah serta petugas pengamatan gunung api.
