Kemunculan kembali Epstein Files membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, dokumen ini membuka peluang keadilan dan validasi atas kesaksian para korban. Di sisi lain, kebocoran data sensitif membuat sebagian dari mereka kembali merasa tidak aman, seolah luka lama dipaksa terbuka di hadapan dunia.
Bagi para penyintas, kasus Epstein bukan tentang sensasi global, melainkan tentang pengakuan dan pertanggungjawaban.Elite, Kekuasaan, dan Pertanyaan yang Menggantung
Kasus Epstein memperlihatkan satu pola yang berulang dalam sejarah: ketika kekuasaan, uang, dan pengaruh bertemu, hukum sering kali tertinggal di belakang. Publik pun bertanya—apakah Epstein bekerja sendirian? Siapa saja yang mengetahui, tetapi memilih diam? Dan apakah kebenaran akan benar-benar terungkap sepenuhnya?
Baca Juga:Awal Ramadan 1447 H Berpotensi Berbeda, BRIN Ungkap Penyebabnya dari Sisi AstronomiTimnas Futsal Indonesia Kalahkan Jepang 5-3 dan akan Lawan Iran di Partai Final
Hingga kini, sebagian pertanyaan itu masih menggantung. Dokumen demi dokumen mungkin akan terus dibuka, namun tidak semua kebenaran datang dalam bentuk arsip.
Lebih dari Sekadar Kasus KriminalEpstein Files bukan hanya tentang satu orang yang melakukan kejahatan. Ia adalah cermin tentang bagaimana sistem bisa gagal melindungi yang lemah, dan betapa sulitnya menembus dinding kekuasaan ketika kejahatan dilakukan di balik pintu-pintu mewah.
Jeffrey Epstein telah mati. Tetapi kisah tentang jaringan, korban, dan tanggung jawab moral dunia—masih jauh dari kata selesai. (red)
