KEMATIAN Jeffrey Epstein pada Agustus 2019 seharusnya menutup salah satu bab paling gelap dalam sejarah kejahatan seksual modern. Namun, bertahun-tahun setelah jasadnya ditemukan tak bernyawa di sel penjara Manhattan, nama Epstein justru kembali menghantui dunia—kali ini lewat ribuan dokumen yang dikenal sebagai Epstein Files.
Dokumen-dokumen itu bukan sekadar arsip hukum. Ia adalah potongan-potongan cerita tentang kekuasaan, relasi elite global, dan korban-korban yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan.
Kematian yang Tak Pernah Sepenuhnya Usai
Jeffrey Epstein, taipan keuangan yang juga predator seksual, resmi dinyatakan meninggal dunia pada 10 Agustus 2019. Otoritas Amerika Serikat menyimpulkan penyebab kematiannya sebagai bunuh diri. Namun, kegagalan sistem pengamanan penjara—kamera mati, penjaga lengah—membuat publik ragu. Sejak saat itu, kematian Epstein menjadi simbol ketidakpercayaan publik terhadap sistem hukum, terutama ketika menyangkut orang-orang berkuasa.
Baca Juga:Awal Ramadan 1447 H Berpotensi Berbeda, BRIN Ungkap Penyebabnya dari Sisi AstronomiTimnas Futsal Indonesia Kalahkan Jepang 5-3 dan akan Lawan Iran di Partai Final
Tetapi terlepas dari kontroversi tersebut, satu hal tak terbantahkan: Epstein memang telah meninggal. Yang belum mati adalah jejaknya.
Ketika Arsip Dibuka, Dunia Terdiam
Epstein Files adalah kumpulan besar dokumen investigasi, catatan hukum, korespondensi, hingga bukti visual yang dikumpulkan selama bertahun-tahun oleh aparat penegak hukum. Sebagian dokumen ini mulai dibuka ke publik secara bertahap, memicu gelombang baru perhatian global.
Yang membuat dunia terhenyak bukan hanya jumlahnya yang mencapai jutaan halaman, melainkan isi di dalamnya. Dalam dokumen-dokumen itu, muncul nama-nama tokoh penting dunia—pejabat, pengusaha, hingga figur publik ternama—yang tercatat pernah berinteraksi, berkomunikasi, atau berada dalam lingkaran sosial Epstein.
Penting dicatat, kemunculan nama tidak otomatis berarti keterlibatan dalam tindak pidana. Banyak dokumen masih dalam bentuk redaksi, sebagian lainnya merupakan catatan sepihak atau belum diuji di pengadilan. Namun bagi publik, fakta bahwa jaringan Epstein begitu luas sudah cukup untuk menimbulkan kegelisahan.
Para Perempuan dan Luka yang Terbuka Kembali
Di balik hiruk-pikuk nama besar dan spekulasi politik, ada cerita yang sering terlupakan: para korban. Perempuan-perempuan—sebagian masih di bawah umur saat kejadian—yang selama bertahun-tahun hidup dengan trauma, ancaman, dan stigma.
