Kondisi berubah signifikan pada 18 Februari 2026. Ketinggian hilal melonjak hingga 7,62 derajat di Merauke dan 10,03 derajat di Sabang, dengan elongasi geosentris antara 10,7 derajat sampai 12,21 derajat, yang dinilai sangat ideal untuk pengamatan hilal.
Sidang Isbat Jadi Penentu Resmi Awal Ramadan
Meski berbagai prediksi telah disampaikan, penetapan resmi awal Ramadan 1447 H tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama pada 17 Februari 2026.
Indonesia sendiri mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Dalam kriteria ini, imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi mencapai 6,4 derajat.
Baca Juga:Timnas Futsal Indonesia Kalahkan Jepang 5-3 dan akan Lawan Iran di Partai FinalGempa Pacitan M6,4 Ternyata Berasal dari Megathrust, BMKG Ungkap Getaran Terasa hingga Bali
Prof. Thomas menegaskan bahwa potensi perbedaan awal Ramadan bukan disebabkan oleh kesalahan data astronomi, melainkan perbedaan sudut pandang dalam penggunaan kriteria.
“Data astronominya sama dan valid. Perbedaannya muncul karena penggunaan kriteria lokal dan global. Masyarakat dipersilakan mengikuti keyakinan masing-masing,” pungkasnya. (Red)
