JABARPUBLISHER.COM – Pasar aset kripto kembali diguncang. Seorang trader Ethereum rugi hingga triliunan rupiah setelah posisi long Ethereum (ETH) miliknya terlikuidasi di tengah tekanan jual besar-besaran pada awal Februari 2026. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan gelombang likuidasi yang menyeret total kerugian pasar kripto global menembus US$2,5 miliar atau sekitar Rp42 triliun.
Data CoinGlass yang dikutip dari CoinDesk pada Minggu (1/2/2026) mencatat, likuidasi terbesar berasal dari satu posisi ETH-USD senilai US$222,65 juta atau setara Rp3,7 triliun. Likuidasi tersebut terjadi di platform derivatif terdesentralisasi Hyperliquid, saat harga Ethereum anjlok tajam dalam waktu singkat.
Harga ETH diketahui merosot hingga 17 persen dalam satu hari ke kisaran US$2.200. Penurunan ini terjadi di tengah kondisi likuiditas pasar yang relatif tipis, sehingga tekanan jual langsung memicu likuidasi berantai pada posisi dengan leverage tinggi.
Ethereum Jadi Pusat Gelombang Likuidasi
Baca Juga:Bansos Cair Februari 2026, Ini Daftar Lengkap PKH, BPNT, hingga Bantuan BerasPemerintah Tetapkan Pembentukan Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Pencairan Dana Desa
Dalam koreksi pasar kripto kali ini, Ethereum menjadi aset yang paling terdampak. Total likuidasi posisi ETH tercatat lebih dari US$1,15 miliar atau sekitar Rp18,4 triliun. Angka tersebut menjadikan Ethereum sebagai kontributor terbesar dalam gelombang likuidasi global.
Bitcoin berada di posisi berikutnya dengan nilai likuidasi mencapai US$788 juta atau sekitar Rp12,6 triliun. Sementara itu, Solana mencatatkan likuidasi mendekati US$200 juta atau sekitar Rp3,2 triliun.
Secara keseluruhan, sekitar 434 ribu trader tercatat mengalami likuidasi dalam periode tersebut. Mayoritas kerugian berasal dari posisi long yang menyumbang sekitar US$2,42 miliar dari total US$2,58 miliar likuidasi. Sebaliknya, posisi short hanya menyumbang sekitar US$163 juta.
Hyperliquid Paling Terdampak
Platform Hyperliquid mencatat likuidasi terbesar dengan total mencapai US$1,09 miliar atau sekitar Rp17,4 triliun. Hampir seluruhnya berasal dari posisi long Ethereum. Nilai ini mewakili lebih dari 40 persen total likuidasi di seluruh exchange.
Bybit menyusul dengan likuidasi sekitar US$574,8 juta atau Rp9,2 triliun, disusul Binance dengan sekitar US$258 juta atau Rp4,1 triliun. Data ini menunjukkan tingginya penggunaan leverage di pasar derivatif kripto, khususnya pada posisi bullish yang terlalu padat.
Ketika harga bergerak melewati batas margin, posisi leverage akan ditutup secara paksa. Kondisi ini memicu efek domino berupa tekanan jual lanjutan, yang pada akhirnya memperbesar volatilitas pasar dan memperdalam kerugian trader.
