Harga Emas Diprediksi Bisa Melonjak hingga US$6.000, Tapi Risiko Koreksi Masih Mengintai

Harga Emas iStockphoto
Ilustrasi harga emas. (iStockphoto)
0 Komentar

“Alasan investor untuk tetap mengalokasikan dana ke emas masih kuat. Kondisi saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan situasi pembalikan harga emas yang berkelanjutan seperti yang terjadi pada 1980-an atau 2013,” ujarnya.

Ia menambahkan, permintaan investasi dari China masih menjadi penopang utama. Meski harga emas di negara-negara Barat cenderung melemah, premi di Bursa Emas Shanghai tetap bertahan tinggi.

Pandangan bullish juga disampaikan analis Société Générale yang menyebut fundamental logam mulia masih solid. Senada, analis pasar Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, mengaku tetap optimistis terhadap harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga:Trader Ethereum Rugi Fantastis Rp3,7 Triliun, Likuidasi Kripto Picu Kepanikan PasarBansos Cair Februari 2026, Ini Daftar Lengkap PKH, BPNT, hingga Bantuan Beras

“Ketidakpastian perdagangan dan geopolitik masih berlangsung. Beban utang negara-negara G7 semakin berat, sementara minat terhadap dolar AS, mata uang utama lain, dan obligasi pemerintah terus melemah. Semua ini menjadi faktor yang menopang harga emas,” jelasnya.

Dengan kombinasi sentimen global, risiko geopolitik, dan dinamika inflasi, pergerakan harga emas ke depan diperkirakan tetap volatil dan penuh kejutan, sehingga terus menjadi aset yang menarik untuk dicermati investor. (red)

0 Komentar