JABARPUBLISHER.COM – Pergerakan harga emas kembali menjadi sorotan pasar global. Setelah mencatat kenaikan solid sejak awal pekan, logam mulia ini dinilai masih berpotensi bergerak tak terduga, dengan peluang melanjutkan reli sekaligus risiko koreksi yang tetap terbuka.
Mengutip Kitco News, Kamis (5/2/2026), ahli strategi pasar senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, menyebut bahwa harga emas secara teoritis masih bisa terdorong hingga level ekstrem di kisaran US$6.000 per troy ons. Namun, ia juga mengingatkan adanya kemungkinan koreksi menuju area support yang lebih rendah.
“Momentum pasar dapat membawa harga emas setinggi US$6.000 per troy ons, tetapi pembalikan yang normal justru berpotensi menyeretnya kembali ke sekitar US$4.000,” ujar McGlone dalam catatannya.
Harga Emas Dinilai Terlalu Tinggi Dibanding Inflasi
Baca Juga:Trader Ethereum Rugi Fantastis Rp3,7 Triliun, Likuidasi Kripto Picu Kepanikan PasarBansos Cair Februari 2026, Ini Daftar Lengkap PKH, BPNT, hingga Bantuan Beras
Menurut McGlone, lonjakan harga emas yang terjadi sepanjang Januari memiliki karakteristik yang sering muncul menjelang fase puncak siklus. Ia menilai tahun 2026 bisa menjadi periode penyesuaian, seiring emas bergerak terlalu tinggi dibandingkan tingkat inflasi saat ini.
“Sejak Presiden Richard Nixon meninggalkan standar emas pada 1971, harga emas belum pernah berada di level setinggi ini ketika inflasi justru relatif rendah,” jelasnya.
Ia pun mempertanyakan apakah inflasi ke depan akan menyusul lonjakan emas, atau justru dunia akan memasuki fase deflasi pasca-inflasi yang lazim terjadi dalam siklus ekonomi.
Harga Emas Kembali Menguat Setelah Koreksi Tajam
Pada perdagangan Rabu (4/2/2026) waktu setempat, harga emas kembali menguat setelah sempat mengalami koreksi terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
Harga emas spot naik 0,38% ke level US$4.966,26 per troy ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS menguat 1,1% ke kisaran US$4.989,81 per troy ons.
Sebelumnya, harga emas sempat tertekan hampir 10% pada akhir pekan lalu. Koreksi tajam tersebut justru memicu aksi beli baru, seiring stabilnya pasar global dan melemahnya dolar AS.
Prospek Harga Emas Masih Didukung Faktor Global
Analis dari berbagai lembaga keuangan global masih melihat prospek harga emas tetap positif. Hsueh, dalam laporannya, menilai bahwa faktor pendorong emas secara fundamental belum berubah.
