KOTA CIREBON — Kota tua seperti Cirebon tak pernah benar-benar kehabisan cerita. Ia menyimpannya di gang-gang lama, bangunan yang berubah rupa, juga pada nama-nama yang perlahan memudar dari ingatan generasi kini. Senin siang, 2 Februari 2026, ingatan itu kembali diketuk—kali ini melalui ruang rapat DPRD Kota Cirebon.
Pimpinan DPRD bersama anggota Komisi II dan III menerima usulan dari pegiat seni dan budaya agar dua tokoh besar masa lalu, Mayor Tan Tjin Kie dan Al Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya—yang dikenal luas sebagai Kang Ayip Muh, memperoleh penghargaan resmi dari Pemerintah Kota Cirebon.
Rapat berlangsung di Griya Sawala, Gedung DPRD Kota Cirebon. Hadir pula staf ahli wali kota, serta jajaran perangkat daerah lintas sektor—mulai dari Disbudpar, Bappelitbangda, DPRKP, DPUTR hingga BPKPD. Kehadiran lintas instansi itu menjadi sinyal bahwa pembahasan ini tidak lagi sekadar romantisme sejarah, melainkan mulai menyentuh ranah kebijakan.
Baca Juga:Di Balik Senyapnya Meja Bea Cukai: KPK Tangkap 17 Orang di JakartaNama Ragnar Oratmangoen Panaskan Bursa Transfer, Persija, Persib, dan Persebaya Siaga di Detik Terakhir
DPRD sebagai Jembatan Ingatan dan Kekuasaan
Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani, menyebut DPRD memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara aspirasi masyarakat dan keputusan eksekutif. Dalam konteks ini, penghargaan terhadap tokoh sejarah bukan sekadar seremoni, tetapi pengakuan negara atas jasa yang nyata.
“Pemerintah daerah dan DPRD adalah penyelenggara pemerintahan. Maka tugas kami menjembatani usulan masyarakat, terutama terkait tokoh-tokoh yang terbukti berkontribusi besar bagi Cirebon,” ujarnya.
Nama Mayor Tan Tjin Kie disebut bukan tanpa alasan. Sosok saudagar Tionghoa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 itu meninggalkan jejak ekonomi yang konkret. Dari rumah sakit, pabrik gula, kawasan industri, hingga bangunan-bangunan yang kini telah berubah fungsi menjadi pusat aktivitas modern.
“Banyak peninggalan beliau yang nyata. Ada yang masih berdiri, ada pula yang kini telah menjadi pusat perniagaan. Tapi perannya sering luput dari narasi resmi sejarah kota,” kata Harry.
Sementara itu, Kang Ayip Muh dikenang sebagai figur ulama kharismatik yang membangun tatanan sosial-keagamaan. Perannya melampaui mimbar dakwah—ia disebut aktif mengikis praktik perjudian dan membangun kesadaran moral masyarakat Cirebon dan sekitarnya.
