Waspadai Child Grooming! Kejahatan Sunyi di Balik Layar Ponsel Anak

Child feature
Ilustrasi child grooming. Fenomena ini biasanya diawali dari percakapan ringan.
0 Komentar

FENOMENA child grooming semakin menjadi ancaman nyata bagi anak-anak di era digital. Bukan lagi sekadar istilah, tetapi sebuah proses manipulatif yang dipakai predator untuk memasuki ruang pribadi anak dan membuka jalan bagi eksploitasi seksual. Menurut definisi internasional, grooming adalah tindakan membangun hubungan dan kepercayaan dengan anak — baik secara offline maupun online — dengan tujuan mengekploitasi mereka secara seksual atau mendapatkan materi intim dari korban.

Mekanisme yang Tersembunyi

Pelaku grooming umumnya tidak langsung memperlihatkan niat jahatnya. Mereka memulai percakapan yang tampak biasa, memberi pujian, hadiah, hingga dukungan emosional untuk mendapatkan kepercayaan anak. Seiring waktu, komunikasi berubah menjadi lebih pribadi, dan pelaku mendorong anak untuk menyembunyikan hubungan dari orang tua atau wali. Taktik ini bertujuan menciptakan isolasi psikologis — sehingga anak semakin bergantung pada pelaku.

Di ruang digital, proses ini semakin cepat dan sulit terdeteksi. Menurut riset global, grooming online dapat berkembang cepat di berbagai platform interaktif seperti media sosial, aplikasi pesan instan, obrolan dalam gim, hingga grup komunitas — bahkan percakapan awal bisa berlangsung dalam hitungan puluhan menit tanpa disadari.

Data Kasus di Indonesia dan Dunia

Baca Juga:Resmi, Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan 1447 H Jatuh 18 Februari 2026Gempa Sumedang: Sesar Lembang Kembali Aktif, Bupati Sumedang Ingatkan untuk Memperketat Mitigasi

Data domestik menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak, termasuk indikasi grooming dalam konteks kekerasan seksual, masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Catatan awal tahun 2026 dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat terdapat ratusan laporan kekerasan terhadap anak hanya dalam pertengahan Januari. Meski laporan itu mencakup berbagai jenis kekerasan, tren menunjukkan bahwa anak-anak tetap menjadi korban utama dalam banyak persoalan kriminal yang menyentuh ranah seksual.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti bahwa praktik grooming sering kali luput terdeteksi karena minimnya pemahaman masyarakat terhadap tanda-tandanya. Relasi yang dibangun pelaku terkadang terlihat seperti dukungan atau persahabatan biasa — sehingga batas antara hubungan sehat dan manipulatif menjadi kabur.

Secara global, data dari organisasi internasional menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kasus online grooming. Di Inggris, misalnya, tercatat kenaikan signifikan dalam catatan kejahatan komunikasi seksual dengan anak selama beberapa tahun terakhir.

0 Komentar