Opini Redaksi: Stres Orang Miskin Bukan Soal Mental Lemah, Tapi Sistem yang Menekan
ADA satu kebohongan sosial yang terus direproduksi dengan rapi: bahwa stres karena tidak punya uang adalah masalah mental pribadi. Kurang bersyukur, kurang kuat, kurang positif. Narasi ini terdengar manis, tapi sesungguhnya kejam.
Kekurangan uang bukan sekadar keadaan batin. Ia adalah tekanan objektif. Ia menekan tubuh, pikiran, dan martabat manusia sekaligus. Ketika seseorang cemas karena tidak tahu besok bisa makan atau tidak, itu bukan kegagalan karakter. Itu respons biologis terhadap ancaman hidup.
Baca Juga:Timnas Futsal Indonesia Gasak Korea Selatan 5-0, Pelatih Minta Ini untuk Laga SelanjutnyaTak Bisa Lagi Sembarangan, Kartu Perdana Kini Wajib Verifikasi Wajah
Sayangnya, sistem lebih nyaman menyalahkan individu ketimbang mengakui struktur yang menindas.
Stres yang Dipolitisasi Secara Diam-diam
Dalam masyarakat yang mengukur nilai manusia lewat produktivitas ekonomi, orang miskin mengalami hukuman ganda. Pertama, kesulitan hidup itu sendiri. Kedua, stigma bahwa mereka “kurang berusaha”.
Inilah bentuk kekerasan simbolik yang jarang disadari: nilai diri dilekatkan pada saldo rekening. Akibatnya, kemiskinan tidak hanya menyulitkan, tetapi juga melucuti rasa layak hidup.
Padahal, secara biologis, stres karena tidak punya uang adalah respons normal sistem saraf terhadap ketidakamanan. Tidak ada teknik afirmasi atau motivasi instan yang bisa menghapusnya sepenuhnya.
Yang sering luput dibahas adalah stres jenis kedua: stres naratif. Cerita-cerita internal seperti “saya gagal”, “saya memalukan”, “saya tertinggal jauh”. Narasi inilah yang diproduksi dan diperkuat oleh sistem sosial, lalu ditelan mentah-mentah oleh individu.
Ketika Standar ‘Normal’ Menjadi Alat Penindasan
Kesalahan umum yang jarang disorot adalah pemaksaan standar hidup “normal” kepada semua orang, tanpa melihat realitas ekonomi masing-masing. Akibatnya, orang miskin hidup dalam konflik permanen antara kebutuhan nyata dan tuntutan sosial.
Dalam tradisi etika lama—baik Stoa maupun tasawuf—dikenal prinsip pengurangan kebutuhan sebagai strategi bertahan, bukan sebagai glorifikasi kemiskinan. Namun di era sekarang, kesederhanaan sering dipelintir sebagai kegagalan, bukan pilihan rasional.
Baca Juga:Dana Desa 2026 di Cirebon Melorot, Dari Miliaran Kini Hanya Rp 300 JutaanDana Desa 2026 di Cirebon Melorot, Dari Miliaran Kini Hanya Rp 300 Jutaan
Paparan konten kemewahan tanpa henti, budaya pamer yang dianggap prestasi, serta glorifikasi kesuksesan instan, semuanya memperparah tekanan psikologis yang sebenarnya bisa dihindari.
