Waspada! Cuaca Ekstrem Belum Usai, BMKG Ungkap Ancaman Serius Hingga Akhir Januari

Ilustrasi cuaca ekstrem -Shutterstock-
Ilustrasi cuaca ekstrem -Shutterstock-
0 Komentar

JABARPUBLISHER.COM – Cuaca ekstrem masih membayangi sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih akan terjadi hingga akhir Januari 2026. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor atmosfer, mulai dari bibit siklon tropis hingga penguatan angin muson Asia.

Dalam beberapa hari terakhir, dampak cuaca ekstrem sudah terasa di berbagai daerah. BMKG mencatat curah hujan tinggi di sejumlah wilayah, di antaranya Nusa Tenggara Barat mencapai 83,8 mm per hari, Maluku 70,4 mm, Sulawesi Selatan 63,4 mm, Bali 61,5 mm, Banten 60,2 mm, Jawa Barat 54,8 mm, serta Sulawesi Barat 50,1 mm per hari. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana dan membutuhkan kewaspadaan ekstra dari masyarakat.

BMKG menegaskan, cuaca ekstrem bukan fenomena sesaat. Pola atmosfer yang terjadi saat ini menunjukkan potensi hujan deras masih akan berulang, terutama di wilayah selatan Indonesia.

Baca Juga:Lucky Element Meninggal Dunia Setelah Berjuang dari Penyakit Tuberkulosis GinjalWagub Jabar Pastikan Pencarian Korban Longsor Dilakukan Secara Maksimal

BMKG menjelaskan, cuaca ekstrem dipicu oleh gabungan faktor regional dan global. Salah satu pemicunya adalah kemunculan dua bibit siklon tropis, yakni Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria.

Kedua bibit siklon tersebut membentuk zona pertemuan angin (konvergensi) yang luas, mencakup Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian selatan, hingga Papua Selatan. Bibit Siklon Tropis 91S bahkan telah memenuhi syarat untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24–48 jam ke depan, meskipun diperkirakan bergerak menjauh ke arah Australia.

Selain itu, penguatan Monsun Asia turut memperparah kondisi cuaca ekstrem. Aliran angin ini membawa udara lembap dari Laut Cina Selatan menuju wilayah Indonesia melalui Selat Karimata. Situasi ini diperkuat oleh fenomena seruakan udara dingin atau cold surge dari Siberia yang mencapai Pulau Jawa, sehingga memicu pertumbuhan awan hujan secara intens.

Tak hanya itu, aktivitas dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin juga berperan besar. Kombinasi seluruh faktor tersebut menciptakan atmosfer yang labil dan mendukung terbentuknya awan hujan tebal di banyak wilayah.

0 Komentar