Bagi para penumpang, malam itu menjadi ujian kesabaran. Ada yang terpaksa menunggu sambil duduk di lantai stasiun, ada yang mencoba memantau informasi lewat ponsel, berharap kabar air segera surut. Di tengah keterlambatan, permohonan maaf dari KAI disampaikan, sembari petugas terus memantau kondisi lapangan.
Fenomena ini kembali menegaskan rapuhnya jalur transportasi vital di kawasan pantura terhadap ancaman banjir dan rob. Ketika air naik, roda ekonomi dan mobilitas manusia ikut tertahan. Dan bagi para penumpang kereta malam itu, perjalanan bukan sekadar soal jarak—melainkan tentang bertahan, menunggu, dan berharap rel kembali kering saat fajar menyingsing. (Jay)
