Rel Terendam Banjir, Malam Panjang Penumpang Kereta di Semarang

Rel Terendam Banjir, Malam Panjang Penumpang Kereta di Semarang
0 Komentar

SEMARANG – Malam itu, Semarang tidak benar-benar tidur. Di balik sunyi dini hari, suara roda kereta yang biasanya melintas teratur justru terhenti. Air luapan banjir perlahan mengambil alih jalur rel di kawasan pantura, memaksa perjalanan kereta api tersendat dan meninggalkan cerita panjang bagi para penumpang.

Kamis malam, 15 Januari 2026, luapan air di petak jalan Kaliwungu–Kalibodri, Kabupaten Kendal, membuat PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang menutup sementara jalur hulu dan hilir. Debit air yang terus meninggi bahkan telah mencapai batas kepala rel di jembatan BH 111 Km 20+7/8. Keselamatan menjadi alasan utama. Jalur dinyatakan tidak aman.

Di Stasiun Semarang Tawang, waktu terasa melambat. Salah satunya dirasakan penumpang KA Blambangan Ekspres. Kereta yang seharusnya tiba sekitar pukul 02.00 WIB, baru merapat hampir satu setengah jam kemudian. Raut lelah bercampur cemas tampak di wajah penumpang yang sejak malam menunggu tanpa kepastian.Gangguan perjalanan ini bukan kasus tunggal. Berdasarkan data KAI Daop 4 Semarang, setidaknya delapan kereta api terdampak langsung. Ada yang mengalami keterlambatan belasan hingga puluhan menit, ada pula yang terpaksa berhenti luar biasa di stasiun terdekat. KA Joglosemarkerto dan Argo Sindoro tertahan di Weleri, KA Kertajaya berhenti di Kalibodri, sementara KA Harina menunggu di Semarang Poncol.

Baca Juga:Bertemu di Jalan Desa, Warga Kuningan Terima Rp5 Juta dari KDMTahun Ini, 15.293 KK Terdampak Penutupan Tambang Terima Bansos

Ketidakpastian itu juga dialami Hanafi, salah seorang penumpang yang melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Cirebon. Perjalanan kereta yang ia tumpangi terpaksa berhenti di Semarang akibat jalur rel yang terendam banjir. Setelah menunggu cukup lama tanpa kepastian kapan kereta akan kembali melanjutkan perjalanan, Hanafi akhirnya memilih turun dan melanjutkan perjalanan menggunakan jasa travel.

“Saya khawatir waktunya makin molor. Tidak ada informasi pasti kapan kereta bisa jalan lagi,. Jadi saya teruskan perjalanan pakai travel saja,” ujarnya.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menjelaskan bahwa penutupan jalur merupakan langkah mitigasi paling aman. Dalam kondisi air menggenangi rel dengan arus deras, KAI menerapkan Semboyan 3, isyarat berhenti total yang menandakan jalur tidak dapat dilalui.“Keselamatan perjalanan dan penumpang menjadi prioritas utama. Jalur harus kami tutup sampai kondisi benar-benar aman,” ujarnya.

0 Komentar