BANDUNG – Kasus kematian pasien yang terinfeksi virus Influenza A H3N2 subclade K atau yang kerap disebut “Super Flu” terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap virus influenza yang belakangan dilaporkan mengalami peningkatan di sejumlah negara.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pasien yang meninggal dunia tersebut tidak wafat semata-mata akibat infeksi virus influenza, melainkan dipicu oleh penyakit penyerta atau komorbid yang sudah diderita sebelumnya.
Menurut Budi Gunadi Sadikin, atau akrab disapa BGS, kondisi komorbid memiliki peran besar dalam memperparah dampak infeksi virus pada pasien.
Baca Juga:John Herdman Janjikan Timnas Indonesia Bakal Lebih TerorganisasiDisnaker Cirebon Sebarkan Informasi Lowongan 659 Pekerjaan di PT. Longrich dan Taekwang
“Misalnya ada orang terkena flu, lalu dia tertabrak mobil dan meninggal. Ada flu-nya, tapi penyebab kematiannya adalah kecelakaan, bukan flu. Kasus di Bandung juga serupa, pasien tersebut memang memiliki penyakit lain yang cukup berat,” ujar BGS dalam konferensi pers, dikutip dari detikcom, Selasa (13/1/2026).
BGS menambahkan, kasus kematian pasien di RSHS Bandung itu sudah masuk dalam data nasional yang mencatat 62 kasus ‘Super Flu’ di Indonesia. Dengan demikian, peristiwa tersebut bukan merupakan temuan kasus baru.
Sebelumnya, pihak RSHS Bandung melaporkan telah menangani 10 pasien dengan gejala Influenza A H3N2 subclade K. Dari jumlah tersebut, satu pasien meninggal dunia karena memiliki riwayat penyakit bawaan yang tergolong berat.
Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr Yovita Hartantri, mengungkapkan bahwa sejak Agustus hingga November 2025, timnya telah memeriksa sejumlah pasien yang dicurigai terpapar ‘Super Flu’. Namun, pada November 2025, tren kasus tersebut dilaporkan mulai menurun.
“Dari seluruh sampel yang kami periksa, data akhirnya baru kami peroleh pada Januari ini. Tercatat ada 10 kasus yang terkonfirmasi sebagai Influenza A H3N2 subclade K,” kata dr Yovita saat ditemui di Auditorium Gedung MCHC RSHS Bandung, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, sepuluh kasus tersebut dialami oleh pasien dari kelompok usia yang beragam, mulai dari bayi hingga dewasa. Terdapat dua bayi berusia 9 bulan dan 1 tahun, satu pasien berusia 11 tahun, serta mayoritas pasien berada pada rentang usia 20 hingga 60 tahun.
