Ia menilai kerja sosial yang dibebankan pun tidak memiliki dasar kebijakan yang jelas dan cenderung bersifat simbolik.
Tak Ada Tanggung Jawab dari PemerintahYang paling disayangkan, kata Rakhmat, adalah ketiadaan evaluasi pemerintah dalam seluruh proses ini.
“Tidak ada satu kalimat pun yang menunjukkan pengakuan kegagalan pengelolaan sampah. Seolah-olah sampah itu muncul dengan sendirinya,” tulisnya lagi.Menurutnya, inilah titik paling memalukan dalam kasus ini: kritik dibungkam, tapi masalah tetap dibiarkan.
Baca Juga:Misi Kakang Setelah Persib Jadi Pemuncak Klasemen Paruh MusimKDM: Pelunasan Pekerjaan Pembangunan 2025 akan Gunakan DAU dan Pajak
Arogansi Kekuasaan LokalRakhmat menilai kasus ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan di tingkat lokal bisa menjadi arogan ketika tidak siap menerima kritik.
“Aparat berubah dari pelayan publik menjadi pengadil moral. Kritik warga diposisikan sebagai ancaman yang harus diselesaikan,” ujarnya.
Jika pola ini dibiarkan, ia khawatir desa dan kecamatan tak lagi menjadi ruang partisipasi, melainkan ruang kepatuhan paksa.
Keberanian yang DiremehkanMenanggapi cibiran bahwa Upi Onol Onol “hanya bisa bicara tanpa aksi”, Rakhmat memberikan penekanan berbeda.“Banyak yang mengkritik Upi karena dianggap hanya ngomong. Padahal ngomong pun perlu keberanian. Dan keberanian itu tidak dilakukan oleh para pengkritiknya,” tulisnya.
Baginya, keberanian bersuara adalah langkah awal perubahan, bukan sesuatu yang layak dipermalukan.
Soal Demokrasi yang DiujiRakhmat menegaskan bahwa tidak ada pelanggaran hukum dalam unggahan Upi Onol Onol. Kritik terhadap pemerintah adalah hak warga negara yang dijamin undang-undang.
“Pemdes dan Kecamatan Karangampel bukan korban kritik. Mereka adalah objek evaluasi publik. Kalau pemerintah tidak siap dikritik, yang perlu dibenahi bukan warganya, tapi mental aparatnya,” tandasnya.
Baca Juga:Bobotoh Diminta Jaga Keamanan dan Ketertiban Saat Pertandingan Persib vs Persija Akhir Pekan IniFenomena Gowes Kian Menguat, Jadi Kebutuhan Kesehatan dan Gaya Hidup Baru
Kasus ini, menurut Rakhmat, adalah ujian kecil dengan makna besar: apakah pemerintah hadir untuk membersihkan masalah, atau sekadar membersihkan suara yang mengganggu kenyamanan kekuasaan.Dan selama sampah masih menumpuk di jalanan, sementara kritik disapu dari ruang publik, pertanyaan itu akan terus bergema. (tim jp)
Surat pernyataan Upi Onol-onol
