Secara spiritual, mimpi ini adalah latihan ikhlas. Secara psikologis, ia adalah simulasi batin menghadapi kehilangan. Dan secara manusiawi, ia adalah pengakuan jujur: bahwa hidup ini rapuh, dan itu tidak selalu menakutkan!
Ia terbangun saat subuh. Waktu paling jujur dalam sehari. Saat dunia belum ramai, dan hati belum berdusta. Ia memilih bangkit. Berwudhu. Menunaikan sholat Subuh. Tanpa tafsir berlebihan. Tanpa ketakutan. Biasa-biasa saja, Sederhana saja.
Karena pada akhirnya, seperti kesimpulan yang terasa paling pas untuk mimpi itu:“Santai. Mimpi ini lebih indah daripada yang terlihat,”
Baca Juga:Natal Sunyi di Merak, Ramai Sehari Sebelumnya di BakauheniHujan Deras Jadi Bencana, Banjir Lumpuhkan Ibu Kota Kabupaten Cirebon
Dan ketika fajar benar-benar menyingsing, ia tahu—ia tidak sedang dihukum. Ia sedang diajak berhenti sejenak, untuk melihat hidup dengan lebih jernih. (*)
