Feature | Catatan Subuh dari Balik Sel yang Tak Pernah Ada

Feature | Catatan Subuh dari Balik Sel yang Tak Pernah Ada
0 Komentar

Ia heran. Mengapa ditangkap sekarang, bukan saat itu terjadi? Ia membandingkan dengan teman lain A, M, yang justru masih bebas di luar.

Apakah keadilan bekerja acak? Apakah masa lalu selalu bisa mengejar?C hanya tersenyum. Tidak membenarkan. Tidak membantah. Tidak memberi jawaban apa pun. Lalu sambil tersenyum C mengajaknya kembali ke dalam.

Dalam tafsir batin, senyum itu bukan pengakuan, melainkan penutup. Seolah ada pesan tak terucap: bukan itu persoalannya.

Sholat di Dalam Sel Sampai Selesai

Baca Juga:Natal Sunyi di Merak, Ramai Sehari Sebelumnya di BakauheniHujan Deras Jadi Bencana, Banjir Lumpuhkan Ibu Kota Kabupaten Cirebon

Bagian paling hening dari mimpi itu terjadi saat sholat berjamaah. Ia datang terlambat. Mencari barisan. Namun justru dipersilakan maju ke depan oleh figur-figur (para napi) yang terasa sangat saleh—disebutnya sebagai “para nabi”, bukan dalam arti harfiah, melainkan simbol suara moral tertinggi.Ia sholat hingga selesai, hingga salam. Di dalam sel. Dalam keterbatasan.

Di sanalah mimpi ini berubah arah. Penjara tidak lagi terasa sebagai hukuman, melainkan ruang perenungan. Ia tidak kehilangan Tuhan. Tidak kehilangan martabat. Tidak kehilangan dirinya sendiri.

Kebebasan yang Mahal

Dalam mimpi itu pula, ia menyadari satu hal: kebebasan ternyata mahal. Sangat mahal.Satu menit berada di luar sel terasa begitu berarti. Sekadar berdiri di halaman kantor polisi saja terasa seperti anugerah.Dari balik jeruji, ia memandang ke luar. Terlihat jalan raya—jalan yang sering ia lewati. Jalan menuju kantor. Jalan menuju TKP liputan. Jalan menuju pertemuan dengan kepala polisi. Jalan hidup yang selama ini terasa biasa.

Kini ia memandangnya dengan tatapan sendu. Ada rindu. Ada kehangatan. Tapi tidak ada tangis. Tidak ada amarah. Hanya perasaan lucu: kenapa bisa begini?Dan justru di situlah letak keindahannya.

Bukan Tentang Hukuman

Mimpi ini, jika dibaca secara utuh, bukan tentang penahanan. Bukan tentang dosa lama. Bukan tentang vonis.

Ini adalah mimpi seorang pria di usia matang—usia ketika hidup tak lagi diukur dari kecepatan, melainkan dari makna. Usia ketika status sosial tak lagi memabukkan, dan kebebasan kecil justru terasa mahal.

0 Komentar