Oleh: — Hasan Zaelani —
FAJAR belum sepenuhnya menyingsing ketika ia terbangun. Jam menunjukkan pukul lima pagi. Tubuhnya berada di kasur, tetapi perasaannya masih tertinggal di sebuah tempat sempit bernama “sel”. Bukan sel penjara sungguhan, melainkan sel dalam mimpi—yang terasa jauh lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Dalam mimpinya, ia ditangkap polisi. Tanpa penjelasan. Tanpa Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Tanpa sebab yang bisa ia pahami. Tahu-tahu, ia sudah berada di dalam penjara.Anehnya, tidak ada kepanikan. Tidak ada perlawanan. Tidak ada ketakutan berlebihan. Semuanya mengalir begitu saja, seolah ia sedang menerima sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti.
Di dalam sel, ia bertemu seorang teman lama bernama C—yang sudah lebih dulu berada di sana. C tampak tenang, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan keadaan. Dari sanalah ia tahu, bahwa mimpi ini bukan tentang kepanikan, melainkan tentang penerimaan.
Di Luar Sel, Dunia Masih Berjalan
Baca Juga:Natal Sunyi di Merak, Ramai Sehari Sebelumnya di BakauheniHujan Deras Jadi Bencana, Banjir Lumpuhkan Ibu Kota Kabupaten Cirebon
Dalam jeda mimpi itu, ia sempat berada di luar sel. Masih di area kantor polisi. Di sana, ia bertemu orang-orang yang ia kenal. Mereka terkejut melihatnya berada di tempat itu.
“Kenapa di sini?” tanya mereka.“Lagi main,” jawabnya santai, sambil antre berbaris bersama para napi lainnya masuk ke sel.
Sebuah jawaban yang terdengar bercanda, tapi menyimpan makna dalam. Ia memilih tidak menjelaskan. Bukan karena berbohong, melainkan karena tak semua hal perlu diumbar. Bahkan dalam mimpi, naluri melindungi orang lain—terutama keluarga—masih bekerja.
Ia juga bertemu beberapa polisi yang ia kenal secara pribadi. Wajah-wajah yang tidak asing. Otoritas yang tidak terasa memusuhi. Sekali lagi, mimpi ini menegaskan: tekanan datang dari sistem, bukan dari manusia.
Pertanyaan Tentang Masa Lalu
Di luar sel itu pula, ia berbincang dengan C. Sebuah percakapan yang menjadi simpul batin mimpi ini.
“Ini masalah apa ya?” tanyanya kepada C.“Karena kesalahan masa lalu? Kesalahan yg waktu ini, waktu itu, atau yang mana? Ya, dulu saya pernah salah, tapi itu sudah lama sekali.”
