CIREBON – Kondisi infrastruktur di wilayah timur Kabupaten Cirebon menjadi sorotan tajam menyusul tersendatnya sejumlah proyek strategis daerah di penghujung tahun anggaran 2025. Di beberapa titik, pengerjaan jalan utama terpantau terhenti, sehingga tidak hanya menghambat konektivitas antarwilayah, tetapi juga mulai mengganggu stabilitas sosial serta infrastruktur desa.
Pada Selasa (23/12/2025), Kuwu Desa Babakangebang, Yeni Setiati, secara terbuka menyampaikan keluhan keras terkait lambannya progres pengecoran Jalan Pangeran Sutajaya. Menurutnya, proyek yang tak kunjung rampung tersebut telah menimbulkan efek domino yang merugikan banyak pihak, terutama warga yang bermukim di sekitar lokasi pengerjaan.Berdasarkan pantauan JP di lapangan, ruas jalan yang belum tersentuh pengecoran secara tuntas membentang cukup panjang, mulai dari kawasan padat aktivitas Pasar Babakan hingga mencapai SPBU di wilayah Desa Kudukeras. Ironisnya, aktivitas alat berat dan pekerja di lokasi proyek saat ini terpantau terhenti total tanpa kejelasan, sementara kalender pengerjaan telah berada di ambang akhir tahun anggaran.
Mandeknya proyek tersebut berdampak langsung pada penumpukan volume kendaraan yang signifikan. Jalur utama yang tidak dapat dilalui secara normal memaksa pengguna jalan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat, mencari jalur alternatif dengan menerobos jalan-jalan lingkungan dan gang permukiman di Desa Babakangebang.
Baca Juga:Kombes Pol Sumarni Pindah ke Metro Bekasi, AKBP Imara Utama Resmi Jabat Kapolresta CirebonOperasi Senyap KPK, Bupati Bekasi Terjaring OTT
Kuwu Yeni Setiati mengaku sangat prihatin dengan kondisi tersebut, mengingat jalan-jalan desa yang kini dijadikan jalur pelarian tidak dirancang untuk menanggung beban lalu lintas berat.
“Kami sangat merasa terganggu dengan situasi ini. Masyarakat dirugikan karena pengerjaan yang mangkrak menyebabkan kendaraan hilir mudik di jalan gang permukiman. Ironisnya, jalan tersebut baru saja kami perbaiki menggunakan Anggaran Dana Desa (DD) demi kenyamanan warga, namun kini berisiko rusak kembali akibat beban kendaraan yang tidak terkendali,” ujar Yeni dengan nada kecewa.
Pemerintah Desa Babakangebang khawatir apabila kondisi ini terus dibiarkan, kemacetan tidak hanya akan mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berpotensi melumpuhkan roda perekonomian lokal, khususnya di sekitar Pasar Babakan.
Dengan sisa waktu pengerjaan yang semakin sempit di penghujung Desember, pihak desa mendesak kontraktor pelaksana dan instansi terkait agar segera mengambil langkah konkret untuk melanjutkan proyek tersebut.
