“Sekarang jalur menjadi filmmaker itu banyak, tapi tantangannya juga besar. Kita bisa mulai bangun IP di media sosial—buat thread di X, bikin konten cerita di TikTok—supaya bisa diakses banyak orang. Sekecil apa pun kita, kalau sudah ditonton banyak orang, itu bisa jadi tiket untuk masuk ke PH di Jakarta. Intinya kita harus jujur dengan karya kita sendiri,” ungkapnya.
Selain kualitas karya, Orista menekankan pentingnya aspek non-teknis dalam dunia film.
“Networking itu paling penting. Dulu saya pikir kalau bikin karya bagus pasti langsung masuk industri. Nyatanya, sebagian besar dari membuat film adalah jualan dan networking dengan banyak orang. Gak cukup cuma branding dan idealis,” tutupnya.
Baca Juga:Sempat Misterius, Identitas Mayat di Sungai Ciberes Akhirnya Diungkap Kuwu Dompyong KulonDPRD Kabupaten Cirebon Terima Audiensi Serikat Buruh Terkait Tuntutan UMSK 2026
Sementara itu, Produser Oris Picture Risty Nanda Dhea Putri menyampaikan optimismenya melihat antusiasme peserta. Ia meyakini bahwa industri kreatif memiliki masa depan cerah dan mampu membuka banyak peluang kerja.
Risty menjelaskan bahwa workshop semacam ini merupakan program rutin Kemenekraf yang digelar di berbagai kota sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kreatif di daerah.
“Acara ini rutin diselenggarakan Ekraf, bukan hanya di Cirebon. Setiap daerah punya workshop yang memberi peluang bagi tenaga ahli perfilman maupun industri kreatif lainnya untuk membuka lapangan pekerjaan. Materi yang saya bawakan fokus pada produksi film, mulai dari budgeting hingga penyusunan alur produksi. Peserta di Cirebon cukup antusias,” jelasnya.
Acara “Bicara Film: Monetize Your Creativity” ditutup dengan screening short film hasil kolaborasi Oris Picture dan Kemenekraf pada pukul 18.00 WIB. (jay/rif)
Orista Primadewa Hadiwiarjo, sutradara film saat diwawancarai awak media.
Produser Oris Picture, Risty Nanda Dhea Putri, diwawancara awak media saat workshop.

