KARWANG – Tokoh masyarakat Karawang, Asep Irawan Syafe’i alias Kang AIS, gagal menemui pimpinan PT FCC Indonesia saat mendatangi langsung pabrik perusahaan tersebut pada Jumat (1/8/2025). Kedatangannya yang hanya didampingi seorang staf ditolak oleh pihak keamanan perusahaan dengan alasan prosedur.
Kang AIS saat berdialog dengan satpam PT. FCC namun kemudian ditolak masuk, Jumat 1 Aguatus 2025.
Kang AIS menyatakan bahwa kunjungannya dilakukan secara baik-baik, tanpa membawa massa, dengan tujuan menemui langsung Direktur Utama (Sacho) PT FCC untuk meminta klarifikasi atas dugaan penghinaan yang dilakukan oknum HRD terhadap warga Karawang.
Baca Juga:PN Kotamobagu Vonis 3 Warga Dumoga Tenggara 4 Bulan Penjara dalam Kasus Kekerasan AnakKetua DPRD Cirebon Siap Bawa Aspirasi Tagana ke KUA-PPAS 2026
“Kami datang hanya berdua. Tapi setiba di depan pabrik, kami langsung dihadang satpam. Ada juga polisi berseragam. Mereka bilang tidak bisa izinkan masuk tanpa persetujuan pimpinan. Saya paham posisi mereka. Kalau saya memaksa, mereka yang kena, anak-istrinya bisa ikut jadi korban. Saya gak mau itu,” jelas Kang AIS lewat postingan di akun FB miliknya.
Sacho Alasan Rapat, GM Cuti
Saat mencoba meminta pertemuan langsung dengan pihak direksi, Kang AIS diberi informasi bahwa Sacho tengah rapat dan General Manager sedang cuti. Ia kemudian diminta mengirim surat resmi permohonan audiensi, yang akan dijawab oleh pihak perusahaan.
“Saya ingin ketemu hari ini juga, bukan minggu depan atau bulan depan. Tapi tetap ditolak. Ini yang saya hindari jika datang ramai-ramai. Bisa rusuh. Tapi justru saat datang baik-baik, malah ditolak mentah-mentah,” ujar Kang AIS.
Menolak Menyerah, Pertimbangkan Langkah Lanjutan
Kang AIS menegaskan dirinya tidak akan berhenti memperjuangkan harga diri masyarakat Karawang. Ia menyatakan sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan surat resmi dalam bahasa Jepang langsung kepada Sacho dan manajemen pusat FCC di Jepang.
“Sekarang pilihannya: kirim surat resmi sambil bawa massa pendukung seperti yang biasa terjadi? Atau buat surat berbahasa Jepang langsung ke pusatnya? Saya menolak untuk menyerah!” tegasnya.
Ia menyebut, penolakan ini mencerminkan realita pahit bahwa warga lokal masih sering dianggap sebelah mata oleh perusahaan asing, bahkan di tanah kelahirannya sendiri.
