BANDUNG – Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI) mengajak generasi milenial atau Gen Z agar lebih cerdas dalam memilih calon kepala daerah yang akan bertarung pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang akan digelar pada November 2024.
Seperti halnya ajang kontestasi politik pemilihan kepala daerah di Kota Bekasi. Fenomena istilah politisi kutu loncat menjadi trend tersendiri menyusul dengan beredarnya gambar bakal calon Wali Kota Tri Adiyanto tempak memakai tiga seragam partai yakni Golkar, PAN dan PDI Perjuangan.
Ketua Umum PMPRI Rohimat menilai bila dilihat dari strategi politik yang pragmatis dan oportunis, perpindahan seorang kader partai ke partai lain adalah hal yang lumrah, dan diperbolehkan. Hanya saja jika dilihat dari sisi etika politik sangatlah tidak elok.
Baca Juga:Menabung di bank bjb, Bisa Dapat Tiket VIP DIGI Bandoeng Festive 2024bank bjb Merayakan Ulang Tahun ke-63 dengan Program Gebyar Agen bjb BiSA!
Seperti diketahui, pada pilkada 2018 silam, cawalkot incumbent Rahmat Effendi menggandeng Tri Adhianto yang saat itu menjabat sebagai Kadis Bina marga Kota Bekasi untuk mendampinginya sebagai calon Wakil Wali Kota.
Bahkan saat itu Tri sempat masuk sebagai kader Golkar. Namun karena jumlah kursi Golkar di DPRD untuk mengusung Pepen-Tri itu tidak memenuhi kuota, maka Tri akhirnya maju mendampingi Pepen masuk lewat Partai Amanat Nasional (PAN). Setelah terpilih jadi Wakil Wali Kota, Tri meninggalkan PAN dan bergabung dengan PDI Perjuangan (PDIP). Alhasil, ia menduduki posisi bergengsi yakni sebagai Ketua DPC PDIP Kota Bekasi.
Banyak kader banteng di Kota Bekasi berharap di bawah kepemimpinan Tri Adhianto suara suara PDIP menjadi naik. Namun justru sebaliknya perolehan kursi DPRD pada Pileg 2024 jeblok. Partai besutan Megawati Soekarnoputri itu harus puas mendapatkan 9 kursi, padahal sebelumnya mendapatkan 13 kursi.
“Menurunnya perolehan kursi PDIP di DPRD Kota Bekasi mengindikasikan bahwa ketua partai yang lahir bukan melalui kaderisasi akan sulit mempertahankan ideologi dan menjaga marwah partai,” ungkap pria yang akrab disapa Joker ini kepada wartawan. Sabtu (11/5/2024).
Selain itu kata dia, dampak bagi partai yang diisi oleh seorang kutu loncat adalah rusaknya sistem kaderisasi partai, karena seorang bisa menduduki sebuah posisi tanpa melewati jenjang kaderisasi yang ada. Selain itu akan melahirkan kecemburuan politik terhadap kader yang telah lama membesarkan partai.
