Untuk Kita Renungkan… “Hilangnya Sakralitas”

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”
0 Komentar

Semua yang instan itu rentan, tak lama bertahan. Sesuatu yang mudah viral, hanya sebentar dikenal, kemudian ditinggal. Waktu bergulir begitu cepat, tak satu pun momen sakral melekat. Kita terlena oleh kemudahan, lalu kita kehilangan jati diri sebagai manusia yang dianugerahi bakat, kekuatan alami yang seharusnya tumbuh di dalam diri. Hanya dengan satu sentuhan jari, sebuah karya yang dulu dianggap luar biasa, kini dengan mudah saja diciptakan oleh mesin AI (Artificial Inteligence) atau kecerdasan buatan. Namun jangan salah, sesuatu yang mudah diciptakan akan mudah pula dilupakan lalu tergantikan.  

Menemukan kembali esensi sakralitas, saya analogikan seperti halnya meminum teh. Untuk mendapatkan sensasi kenikmatannya, saya harus mencari sendiri mana teh yang berkualitas baik, gula yang bermutu, dan cara saji yang benar tentunya. Saya hirup aroma khasnya, saya rasakan hangatnya, lalu seruput pelan-pelan, setiap rasa sepet yang mengendap di lidah, saya nikmati betul-betul. Ada kebanggaan di sana, ini lho air teh buatan saya. Selalu ada bahan untuk dibicarakan, selalu ada cerita yang ditunggu.

“Ah, ribet amat, tinggal beli teh botolan di warung, beres sudah!,” Seorang sahabat coba membantah analogi ini. Dengan sedikit guyon saya jawab bantahannya, “Saya ini manusia bro, bukan AI,” (****)

Baca Juga:Polresta Cirebon Dua Tahun Tak TerkalahkanIsu Pinjol Nakal Membumi Di Debat Cawapres 2024

Penulis: Rif Bontar, Pemerhati Sosial, Pegiat UMKM, dan Penulis Freelance di JabarPublisher.com | Editor & Finishing Touch: Hasan Jay

 

0 Komentar