Untuk Kita Renungkan… “Hilangnya Sakralitas”

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”
0 Komentar

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”Foto: Ilustrasi

Sedikit yang bisa memahami dengan baik bahwa sejatinya penghargaan pribadi yang sakral bisa dilakukan dengan menikmati setiap momentum peristiwa dengan ungkapan rasa syukur yang apa adanya, seadanya, dan spontan, tanpa sibuk mencari pengakuan dari ruang sosial. Hampir perilaku sakral seperti itu menjadi hal langka. Semua momen sepertinya harus dipertunjukkan di ruang sosial digital sebagai validasi dan eksistensi pribadi di era kekinian. Dengan harapan mendapat ramai oleh like dan komentar yang ‘beraroma’ kebohongan. “Ini lho saya lagi di sini dengan momen ini,” begitu kira-kira ungkapan sederhana yang ingin digambarkan orang-orang masa kini. Seolah, setiap orang nampak ingin jadi pesohor di sana, dijagat maya, bukan jagat nyata.

Jika kita perhatikan baik-baik, momen hilangnya sakralitas itu juga terjadi pada hampir semua aspek sosial. Seperti halnya ungkapan belasungkawa yang cukup dengan mengirim stiker WA saja (Biasanya disertai keterangan ‘maaf gak bisa datang’ karena ada keperluan lain), momen pernikahan yang saling berlomba kemewahan resepsi untuk menunjukan eksistensi, bukan pada sakralitas akad nikahnya, kelahiran si buah hati, haji dan umroh cukup dengan selfie di depan Ka’bah lalu posting di status. Yang mana dahulu kala, momen-momen spiritual seperti itu akan terasa jauh lebih bermakna jika kita nikmati dalam senyap, tanpa perlu dipamerkan.

Pada konteks yang lebih serius, semisal penegakan hukum, beberapa kasus baru akan ditanggapi ketika viral, ketika publik menghakimi. Bukan pada tanggung jawab dan peran bahwa publik tahu atau tidak, tugas dan amanah harus konsisten dilaksanakan. Dalam istilah populer kita mengenal jargon ‘no viral no justice’ (gak viral, gak ada keadilan). Dulu, ketika seorang pejabat ketahuan korupsi pastilah akan malu, menangis, bahkan menyesal. Kini tanpa rasa malu, sambil mengenakan rompi orange, mereka malah tebar senyum ke kamera wartawan.

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”Foto: Ilustrasi & Pendukung Artikel

Baca Juga:Polresta Cirebon Dua Tahun Tak TerkalahkanIsu Pinjol Nakal Membumi Di Debat Cawapres 2024

Belum lagi kalau kita bahas soal etika. Seperti etika antara anak dan orang tua, murid dan guru, suami dan istri, dan banyak lagi aspek yang secara drastis berubah, bergeser, dan mungkin rasanya semakin hambar bagi beberapa orang. Ini terjadi karena nilai-nilai tradisi yang mulai hilang. (Silahkan pembaca JP renungkan dan temukan sendiri contoh lainnya). 

0 Komentar