Untuk Kita Renungkan… “Hilangnya Sakralitas”

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”
0 Komentar

Salah satu contoh lainnya bagaimana pergeseran perilaku sosial amat berdampak pada nilai-nilai kearifan. Kita tahu bahwa menjamurnya e-commerce dan marketplace di platform digital, ini pun berdampak pada nilai-nilai sakral ruang interaksi. Dulu, untuk membeli baju atau kebutuhan rumah, orang tua kita pergi ke toko maupun pasar. Ada interaksi di sana, bisa memilih detail dan kualitas barang yang mau dibeli, tawar menawar beradu argumen harga antara pembeli dan pedagang, hingga terbentuk keakraban menjadi pelanggan. 

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”Foto: Ilustrasi

Tak sedikit yang akhirnya membentuk persaudaraan diantara keduanya. Saling mengenal satu sama lain, saling berkirim undangan, inilah nilai sakralnya. Belakangan setelah era digitalisasi menjamur, hal-hal di atas sudah bergeser nilainya. Barang yang akan kita beli tak tahu bagaimana kualitasnya, tak tahu siapa nama penjualnya, dan harga sudah ditentukan nilainya. Meski ini terlihat memberi kemudahan, namun tak sedikit kasus adanya penipuan terjadi. Interaksi antara penjual dan pembeli alhasil terkikis. Ijab qobul tanda jadi, cukup dengan mencentang layar ponsel. 

Artinya, meskipun banyak juga yang berjualan dengan cara benar di platform digital, ini tetap mengurangi nilai kesakralan yang dulu pernah ada, yaitu saling mengenal persona. Bayangkan saja, dulu ibu-ibu komplek  selalu setia menunggu tukang sayur langganannya lewat di depan rumah dengan harap-harap cemas, kini cukup menunggu info dari tukang sayur di grup WA orderan sayur. Kemana kesakralan tawar menawar yang bernuansa gombalan ala ibu-ibu komplek perumahan dan mamang pedagang sayur yang kadang tak sengaja disertai bumbu-bumbu nge-ghibahin janda baru di rumah ujung? Senyap sudah.

Baca Juga:Polresta Cirebon Dua Tahun Tak TerkalahkanIsu Pinjol Nakal Membumi Di Debat Cawapres 2024

Kita tentu sering juga mengalami bagaimana ruang interaksi keluarga yang dulu di sana terjadi perbincangan, candaan, atau sekedar keluh kesah anak kepada orang tua tentang masalahnya di sekolah, kini pemandangan seperti itu nyaris tak ada lagi. Ruang berkumpul keluarga yang nampak hanya sebuah kesibukan personal dengan perangkat HP nya masing-masing, tenggelam dalam semesta digital.

Rekreasi keluarga sebagai siasat mencipta ‘quality time’, semisal gathering ke tempat wisata, berkuliner, jalan-jalan, lagi-lagi hilang sakralitasnya. Dan pemandangan yang terlihat setiap personal hanya sibuk berfoto selfie lalu posting ke media sosial, menunjukan eksistensi, bukan pada esensi kebahagiaan liburan yang tertancap kuat dalam kenangan. Momen serunya liburan kini diabadikan oleh ratusan foto yang mungkin tak pernah kita cetak.

0 Komentar