Untuk Kita Renungkan… “Hilangnya Sakralitas”

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”
0 Komentar

TEKNOLOGI setiap saat mengalami perubahan yang cukup pesat. Seiring itu, perilaku masyarakat pun mengalami pula pergeseran yang signifikan. Kemunculan platform media sosial di internet yang marak menjadi salah satu pemicu perubahan perilaku pada masyarakat dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir.

Untuk Kita Renungkan... “Hilangnya Sakralitas”

Banyak hal yang memungkinkan perubahan interaksi pada ruang-ruang pertemuan sosial. Sebagai contoh, anak-anak muda tahun 2000-an kerap melakukan aktivitas di luar rumah seharian dan baru pulang ketika petang tiba. Orang tua akan lebih cemas jika seorang anak banyak menghabiskan waktu berdiam diri saja dalam kamarnya.

Belakangan, justru berbalik fenomenanya, orang tua berpikir mungkin lebih baik anak tidak berkegiatan di luar rumah. Mereka lebih senang jika anaknya tetap di rumah, masih dalam jangkauan pengawasan mereka, meskipun seharian habis waktunya untuk bermain internet. Tentu ini lebih berbahaya untuk perkembangan mentalnya di masa depan.

Baca Juga:Polresta Cirebon Dua Tahun Tak TerkalahkanIsu Pinjol Nakal Membumi Di Debat Cawapres 2024

Internet yang awalnya digadang-gadang menjadi solusi kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi dan pengetahuan, semakin ke sini kok malah nampak beresiko. Dengan melihat fenomena pergeseran perilaku pada penggunanya yang konsumtif tanpa terkontrol dalam mengaksesnya. Banyak orang nampak lebih cerdas terbentuk oleh kemudahan informasi yang berasal dari gawai teknologi sebatas genggaman tangan. Namun menjadi rancu sebab nilai-nilai sosial mulai bergeser. Mereka hanya hafal ‘petanya’, bukan ‘wilayahnya’. 

Dulu, jauh sebelum teknologi dan informasi tak sederas saat ini sebuah pengalaman dan momentum bernilai sakral. Sebab ada usaha yang terbilang cukup keras untuk mewujudkannya. Semisal seorang anak muda yang ingin mendalami teknik menjadi montir, mereka harus menempuh usaha belajar dan praktek di sekolah khusus maupun tempat kursus tertentu. Ada teori yang perlu didalami, dan praktek langsung yang harus dipelajari. Momentum belajar dan praktek di tempat khusus tersebut itulah yang nilainya menjadi sakral, sebab ada usaha menemui guru pengajarnya, biaya belajar, dan banyak waktu yang dihabiskan dalam menempuhnya.

Kini, cukup dengan browsing google semua informasi yang dibutuhkan banyak tersedia pilihannya. Baik berbentuk tulisan artikel di web ataupun video-video semisal di youtube, Tiktok, Facebook, Instagram dan lainnya dibuat semudah mungkin informasinya untuk dipelajari. Bahkan ada video pendek yang cukup berdurasi 30 detik hingga 1 menit mampu merangkum pengetahuan tersebut. Dan itu cukup bermodalkan kuota internet yang tidak seberapa, siapapun bisa mempelajari banyak hal sambil rebahan saja di kamar. Kemana nilai sakralitas yang dicapai dari sebuah effort yang bisa dilakukan dari cara kemudahan seperti itu? Ini tentu membawa pengaruh kemerosotan pada nilai-nilai sakral interaksi masyarakat dalam lingkup sosial juga pada masa depan negeri ini.

0 Komentar