“Kita ambil lembah ke hutan, kita pindahkan ke kotak, dan mulai terasa, ketika kita sudah bisa pecah koloni, bisa panen,” ucap Supardi.
Dari sana, Supardi memulai langkah awal bersama 19 anggota kelompok tani untuk membudidayakan lebah madu.
Ketika pandemi COVID-19, Supardi sempat mengira budi daya lebah madu akan terdampak. Namun yang terjadi tidak demikian. Penjualan madu hasil budi dayanya justru meningkat 300 persen.
Baca Juga:Wagub Jabar: Bangun Desa Kolaborasikan Dengan Program ProvinsiPlt Bupati Bekasi Tinjau Jaling di Wanasari
“Kalau dihitung-hitung lebih dari Rp100 juta. Sekarang kebanyakan mulai banyak yang ingin budi daya lebah madu, sebagian lebah madu saya jual untuk indukan, untuk sementara kita tidak bisa fokus ke produksi karena ada kerja sama dengan Dinas Kehutanan Jawa Barat untuk menyediakan indukkan atau koloni,” katanya.
Oleh karena itu, Supardi mengajak para petani yang tergabung dalam Program Petani Milenial ataupun perseorangan untuk mulai membudidayakan lebah madu. Sebab, permintaan untuk madu masih sangat besar. Itu menjadi potensi yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
“Harapannya banyak peternak lebah, karena pasar madu trigona sangat banyak tapi suplai sedikit, buyer yang datang ke kami, tapi kita tidak berani kontrak karena kita belum punya jaringan yang kuat, karena peternak madu trigona masih terbatas,” jelasnya. (hms/rls)
