KPK ‘Gagal Panen OTT’ Gara-gara TWK, Koruptor Senang

KPK 'Gagal Panen OTT' Gara-gara TWK, Koruptor Senang
0 Komentar

JAKARTA – Pertengahan tahun ini seharusnya Komisi Pemberantasan Korupsi memasuki musim “panen” operasi tangkap tangan. Semuanya buyar karena sejumlah pegawai dinonaktifkan lewat Tes Wawasan Kebangsaan atau TWK.

Kepala Satuan Tugas Penyelidikan nonaktif Harun Al Rasyid masih ingat oborolannya dengan Ketua KPK Firli Bahuri pada awal tahun kemarin. Firli menemuinya dan bertanya perkembangan berbagai perkara yang tengah diselidiki Harun. “Dia bilang, kapan kita ‘menuai’ lagi?” ujar Harun menirukan obrolannya kepada Tim Indonesialeaks, akhir Mei lalu.

Kepada Firli, Harun mengaku sedang menelisik sejumlah kasus besar. “Sabar, Pak Ketua. Kami sedang ‘menanam’, masak ‘menuai’ terus,” kata dia menjawab Firli. Menanam dan menuai adalah istilah slang di KPK untuk menyebut menyelidiki perkara dan menangkap para terduga pelaku korupsi.

Baca Juga:Cegah Penyebaran Covid-19, Pol PP Kab. Bekasi Laksanakan Operasi Bhakti Praja di Desa Srimahi1.329 Pesantren Jabar Ikut Audisi OPOP 2021 Tahap I

Seharusnya, kata Harun, saat ini sudah memasuki musim penangkapan karena pengumpulan bukti untuk menangkap calon tersangka telah cukup. Tapi rencana OTT itu terganjal pencabutan kewenangan penyelidikannya. Harun masuk menjadi salah satu dari 75 pegawai KPK yang dianggap tidak lolos tes wawasan kebangsaan. Sebanyak 51 di antaranya akan dipecat, sedangkan 24 orang lainnya bisa diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara asal mau dididik ulang.

Harun terlibat dalam banyak operasi tangan. Kasus-kasus yang pernah dia tangani di antaranya, penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy pada 2019; Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah pada 2020 dan penangkapan Komisioner Komisi Pemilihan Umum wahyu Setiawan.

Harun juga tergabung dalam Satuan Tugas Daftar Pencarian Orang yang bertugas memburu buronan KPK. Satu nama buronan itu adalah mantan calon legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Harun Masiku.

Satgas DPO beranggotakan 14 personel dari berbagai bagian. Menurut Harun, timnya sudah mengetahui lokasi Harun Masiku. Harun Masiku diduga bolak-balik Indonesia dan sebuah negara tetangga.

Pada Mei lalu, Harun Masiku diduga berada di Indonesia. Apabila mendapatkan izin dari atasannya, Harun Al Rasyid mengatakan sebenarnya bisa saja Harun Masiku saat itu ditangkap. Sekarang perburuan terhadap Harun Masiku dan buronan lainnya bisa jadi lebih sulit. Setengah dari tim Satgas DPO dinyatakan tidak lulus TWK.

0 Komentar