DEWI Perssik membagikan potret dirinya via Instagram dengan kulit ruam kemerahan pada Kamis (24/12) malam. Dalam keterangan foto, dia mengaku hal itu disebabkan oleh efek samping COVID-19 yang pernah dia alami.
“…Sekarang aku sudah sembuh dan recovery. Jadi timbul kemerahan ini adalah salah satu yang timbul dari mereka yang terkena COVID sekitar 20 persen,” kata dia dalam unggahan yang mendapat dukungan likes dari 300 ribuan lebih orang tersebut.
Kasus serupa dialami oleh Morgan McElroy, 20 tahun dari Ohio, Amerika Serikat. Lewat TikTok dia mengatakan dirinya alergi terhadap virus COVID-19. Meski demikian, pakar, dikutip dari Washington Post, Jumat, mengatakan itu tak bisa dibilang alergi.
Baca Juga:Jabar Raih Tiga Penghargaan dalam It Works Top Digital Awards 2020Fix! Tanggal 28, 29, 30 Desember Tidak Jadi Libur
Purvi Parikh, seorang pakar alergi dan imunologis mengatakan McElroy tidak alergi terhadap virus novel corona. Dalam penanganan Parikh, sejumlah pasien mengalami hal serupa yakni ruam kemerahan. “Hal ini biasanya akibat virus yang jamak didapati, dan biasanya virusnya jinak,” kata Parikh.
Sebaliknya, gejala yang dialami McElroy lebih cenderung merupakan produk sampingan dari sistem kekebalannya yang melawan virus corona, kata David Stukus, anggota gugus tugas respons COVID-19 untuk American Academy of Allergy, Asma and Immunology.
“Kami tahu bahwa COVID benar-benar bisa menjadi penyakit sistematis bagi banyak orang,” ujarnya. Stukus mengatakan bahwa saat seseorang kena COVID-19, apa saja dan semuanya berperan.
“Virus dan infeksi lain adalah pemicu umum untuk episode gatal-gatal dan pembengkakan yang tampaknya acak,” kata Stukus. Merah-merah pada kulit bisa sangat dramatis, seperti yang dialami Dewi Perssik, bahkan wajah bisa bengkak.
“Ini bisa sangat melemahkan karena bisa sangat gatal, tapi sangat berbeda dari reaksi alergi dan anafilaksis,” kata Stukus.
Panagis Galiatsatos, asisten profesor kedokteran di Johns Hopkins mengatakan rasa gatal dan merah-merah hingga bengkak yang dialami saat COVID-19 adalah reaksi menyederhanakan respons kompleks sistem kekebalan tubuh.
“Itu hanya berarti sistem kekebalannya tidak menyukai COVID-19, tidak berbeda dengan sistem kekebalan setiap manusia lainnya,” kata Galiatsatos, dokter perawatan paru dan kritis yang bekerja dengan pasien COVID.
