Penanganan Jenazah Covid-19 di RS Gunung Jati Penuh Teka-teki

Penanganan Jenazah Covid-19 di RS Gunung Jati Penuh Teka-teki
0 Komentar

CIREBON – Proses pemulasaraan jenazah pasien berinisial S (37 tahun) asal Desa Gunung Jati, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, masih menjadi misteri. Pasalnya baik pihak keluarga, masyarakat, maupun pihak rumah sakit Gunung Jati dan Dinas Kesehatan Kota Cirebon memiliki alibi masing-masing terhadap masalah tersebut.

Baca berita sebelumnya, Klik: Jenazah Covid-19 dari RS Gunung Jati Masih Berpakaian Akhirnya Dibuka, Dimandikan dan Dikafani Lagi Seperti Biasa

Penanganan Jenazah Covid-19 di RS Gunung Jati Penuh Teka-teki

Yang membingungkan adalah ketika dalam konferensi pers di awal-awal, Direktur Rumah Sakit Gunung Jati dr Ismail menyampaikan/membacakan bahwa karena pertimbangan mencegah persebaran infeksi, maka pakaian yang melekat pada tubuh jenazah tersebut tidak dibuka sesuai dengan protokol covid-19. Selain itu, karena ada pula rembesan rembesan cairan yang keluar dari tubuh pasien yakni melalui anus sehingga dipakaikanlah Pampers untuk menghindari timbulnya masalah baru.

Baca Juga:Peringati HUT Ke-75 TNI, Dansektor 6 Gelar Tanam Pohon Dibantaran DAS CitarumJenazah Covid-19 dari RS Gunung Jati Masih Berpakaian. Akhirnya Dibuka, Dimandikan & Dikafani Lagi Seperti Biasa

Padahal dalam proses penanganan pasien hingga menjadi jenazah yang positif covid, dipastikan petugas medis-lah yang tahu betul alur penanganannya. Hanya saja para petugas tersebut tidak dihadirkan dalam konpers itu. Pihak RS hanya menghadirkan dr. Agung, Kepala ICU dan Anastesi yang tidak kita ketahui apakah memeriksa langsung kondisi pasien/jenazah tersebut atau tidak.

Namun pernyataan yang berbeda justru muncul dalam sesi tanya jawab antara pihak RS dan Wartawan. dr. Laila, perwakilan dari Dinkes Kota Cirebon menjelaskan bahwa jenazah sebelum dikirimkan tidak dibungkus bulat-bulat seperti yang terlihat melainkan sudah dibersihkan terlebih dahulu lalu dipakaikan lagi pakaian serta popok.

“Jadi bukan dengan pempers kotor bulet-bulet (dibungkus), tapi ada proses. Untuk baju itu milik pasien tapi kondisinya pada hari sebelum dilakukan pemasangan ett, pasien sudah dimandikan karena sesudah dipasang fentilator kan sulit, jadi paling di-lap. Mengingat banyak cairan yang keluar dan lain-lain, sehingga masih dipakaikan, tapi dibungkus plastik itu untuk menghindari yang lain kena, kemudian dikafankan dan dibungkus lagi. Cuman pada saat video ditayangkan sudah dibuka semua, jadi kesannya cuma kaya diplastikin. Nah itu punten,” ungkap Laila.

Pernyataan yang cenderung berbeda dengan saat awal-awal konpers juga disampaikan dr Ismail, yang kembali disela oleh dr. Laila.

0 Komentar