Ia juga menegaskan bahwa pada akhirnya jenazah positif covid tersebut dimandikan kembali oleh keluarga mereka. “Akhirnya dimakamkan seperti jenazah biasa, dimandikan lagi dan dikafani lagi oleh keluarganya,” tandas Bahrudin yang sudah bekerja selama 32 tahun sebagai sopir ambulance.
SEKDA KOTA CIREBON DAN DIREKTUR RS GUNUNG JATI LANGSUNG GELAR KONFRENSI PERS
Di tempat konpers, Sekda Kota Cirebon Agus Mulyadi menegaskan bahwa pihaknya ingin menginformasikan kepada masyarakat ketika seorang jenazah dinyatakan positif covid 19 maka proses pemulasaraan jenazah pun wajib mengikuti protokol covid-19. “Masyarakat juga harus paham SOP-nya demikian. Lakukan koordinasi yang baik dengan seluruh perangkat teknis untuk bisa lakukan penanganan yang baik terhadap pasien dari Kota Cirebon maupun Kabupaten. Adapun di Pemkot Cirebon sendiri untuk jenazah Covid-19 pemakamannya khusus yakni di Kedung Menjangan dengan protokol yang tetap harus dijalankan,” ungkapnya. Sekda juga berharap tidak ada lagi stigma yang negatif terhadap pasien terkonfirmasi Covid-19.
Baca Juga:Rebutkan Piala Pangdam III/Siliwangi, Dansektor 7 Satgas Citarum Harum Gelar Festival Burung KicauDitengah Pandemi, LSM KOMPAK Cirebon Tetap Berbagi dengan Yatim & Dhuafa
SUASANA SAAT KONPERS DI PSC 119 TERKAIT JENAZAH COVID 19 DI KEC GUNUNG JATI. TAMPAK DIREKTUR RS (KANAN) SEDANG MENJELASKAN DIDAMPINGI KEPALA ICU (TENGAH) DAN PETUGAS DARI DINKES KOTA CIREBON (KIRI)
Sedangkan Direktur RS Gunung Jati dr Ismail menegaskan bahwa pasien tersebut awalnya merupakan pasien rujukan dari RS Putra Bahagia. Namun saat dilakukan tes swab menunjukkan hasil positif dan meninggal pada tanggal 4 Oktober. “Kami sudah melakukan prosedur yang seharusnya. Memang diantar oleh seorang sopir ambulance. Dan untuk pemakaman bukan menjadi tanggungjawab RS Gunung Jati. Kewenangan kami hanya mengantarkan jenazah saja dan kemudian berkoordinasi dengan petugas di daerah tujuan namun itu situasional, karena jumlah petugas kita juga terbatas. Untuk diketahui, jenazah itu sudah dikafani dan dipakaikan popok lalu dibungkus plastik, dan dimasukan ke dalam peti. Jadi dibungkus sebanyak 3 lapis. Kenapa pakai popok karena ada cairan yang terus keluar dari tubuhnya. Jadi kurang tepat yah kalau jenazah itu ditelantarkan. Jenazah itu sudah dikafani dan dibungkus plastik dan peti. Soal baju yang dipakai itu baju miliknya bukan baju dari RS. Baju itu dipakaikan kembali karena takutnya baju tersebut sudah terinveksi virus dan popok itu dipakai untuk mencegah rembesan cairan yang keluar terus menerus dari tubuh pasien,” ungkap direktur. Saat konpers tersebut, direktur meminta Kepala ICU dan Anastesi RS Gunung Jati dr. Agung, untuk mendampingi. Namun Agung yang tampak bingung dan berkeringat tak banyak berkata, hanya sesekali mengiyakan ketika ditanya oleh direktur RS.
