SIMAK JUGA ULASANNYA DI JPNEXT TV. *KLIK!⬆️
“Sebenarnya jenazah ini dari dulu memang punya penyakit bawaan sesak nafas. Tahu keadaan begini semakin membuat kita juga bertanya-tanya. Kalo mereka bawa tim untuk penguburan mungkin ga akan jadi masalah,” ungkap Nuril.
“Kalau mau membodohi masyarakat ya jangan bodoh-bodoh amat. Setau saya penguburan jenazah covid-19 itu kan ada aturannya, paling tidak di dampingi oleh 2-4 medis dengan APD lengkap dan juga suasana yang tertutup. Tapi ini tidak demikian,” sambung Nuril.
Dia berharap pihak rumah sakit memberi konfirmasi yang jelas dengan melampirkan bukti hasil laboratorium. Bukan hanya surat yang menyatakan kalau jenazah terpapar covid-19. “Jenazah ini manusia, sudah seharusnya di perlakukan dengan layak dan sebagai mana mestinya,” sesal Nuril.
Baca Juga:Rebutkan Piala Pangdam III/Siliwangi, Dansektor 7 Satgas Citarum Harum Gelar Festival Burung KicauDitengah Pandemi, LSM KOMPAK Cirebon Tetap Berbagi dengan Yatim & Dhuafa
Sementara itu, Juru Kunci makam TPU Gunung Jati Sutrisno mengaku, mobil jenazah datang ke TPU pada jam 12.00 siang. Kedatangan mobil tersebut membuat masyarakat dan pihak pasien heran lantaran hanya supir yang mengantar. Seakan mengganjal, masyarakat sekitar sontak kisruh hingga akhirnya membuka peti jenazah. Tak disangka didalam peti, jenazah masih memakai baju, hanya dipakaikan popok dewasa dan dibungkus plastik saja.
“Hanya diantar oleh supir yang bikin masyarakat sini kisruh kenapa seakan pihak RS tidak ada tanggung jawab sama sekali. Karena keganjalan ini, akhirnya masyarakat membuka peti itu. Ternyata hanya dipakaikan popok dewasa di bungkus plastik, kami menduga jenazah tidak diperlakukan sesuai syariat islam dan tidak disucikan. Akhirnya dibawa ke rumah duka untuk dimandikan dan diurus sesuai syariat,” sambung Kuncen makam Gunung Jati Sutrisno.
Sementara itu, sopir ambulance RSGJ Bahrudin, saat dikonfirmasi JP lewat telepon membenarkan bahwa dia datang sendiri ke lokasi pemakaman. “Betul saya datang sendiri dan saya pulang jalan kaki karena warga sempat emosi dan menahan kunci serta ambulance RS,” ungkapnya. Ia juga berharap tiap pengantaran jenazah, khususnya jenazah covid 19, seyogyanya bisa didampingi oleh petugas medis lainnya karena kondisi di lapangan kadang tidak sesuai harapannya.
“Biasanya saya sendiri kadang juga bersama petugas medis lainnya dan kadang pula diantar oleh petugas dari puskesmas di lokasi tujuan,” imbuhnya.
