Lebih lanjut Reni menjelaskan, sejauh ini, para ahli masih terus mempelajari fenomena terjadinya happy hypoxia. Penelitian tersebut dilakukan pada 16 orang pasien Covid-19 dengan kadar oksigen sangat rendah yang tidak memiliki gejala hipoksia. Hasilnya, ada beberapa hal yang bisa ditarik sebagai kemungkinan penyebab happy hypoxia, yaitu rendahnya kadar karbondioksida di tubuh pasien Covid-19, virus corona merusak bagian otak yang seharusnya merespons hipoksia.
“Kemungkinan lain penyebab happy hypoxia adalah virus corona yang masuk ke tubuh, telah merusak kemampuan tubuh dalam mendeteksi penurunan oksigen. Sehingga, otak baru merespons ketika kadar oksigen sudah terlalu rendah dan barulah menunjukkan gejala, seperti sesak napas. Happy hypoxia harus sangat diwaspadai selama masa pandemi, karena kondisi ini sudah menyumbang cukup banyak angka kematian akibat Covid-19,” tegasnya.
Pada infeksi virus terbaru ini, tidak munculnya gejala bukan berarti masalah selesai. Orang yang tidak bergejala apapun, bisa saja positif dan menularkan virusnya ke banyak orang. Bahkan tanpa gejala, seseorang juga bisa mengalami happy hypoxia, yang membuat tubuh terasa sehat-sehat saja, padahal organ penting di dalamnya sudah rusak. (dbs)
