Pandemi ini menjadi kesempatan yang penting bagi telekomunikasi dengan dunia medis dalam melakukan kolaborasi. Indonesia dengan jumlah penduduk yang tersebar di berbagai daerah, namun sebaran tenaga medis yang tidak seimbang. Ini menjadikan telemedicine menjadi solusi untuk kita semua. Perlu ada kolaborasi yang serius dari aspek regulasi sampai aspek teknis eksekusinya.
Sudah saatnya kita bukan hanya menafsirkan teori, tetapi juga praktek-praktek yang dilakukan terkait dengan Telemedicine. Tantangan untuk kita yaitu pelayanan medis menggunakan teknologi atau telemedicine bisa seoptimal mungkin. Aspek yang perlu diperhatikan secara serius yaitu kepercayaan dari pasien kepada tim medis secara jarak jauh. Hadirnya telemedicine ini diharapkan dapat meningkatkan ekspektasi publik terhadap layanan masyarakat.
Kemudian Muh. Irfan selaku Praktisi Telekomunikasi juga memaparkan mengenai Protokol Ekosistem Data dan Pengembangan Telemedicine. Saat ini, kita sedang menghadapi hal yang tidak terlihat yaitu virus. Banyak protokol yang diterapkan untuk menghadapi pandemi ini yang mengharuskan kita untuk berkomunikasi secara jarak jauh. Aplikasi kesehatan kini memiliki pertumbuhan trafic yang tinggi.
Baca Juga:Uang Tabungan Murid SDN 1 Jatiseeng Belum Kembali, Begini Reaksi Sekolah dan Wali MuridKepsek SDN Centre Laporkan Pejabat Disdik Kab Cirebon Soal Tabungan, Ini Tanggapan Sang Pejabat
“Penggunaan aplikasi kesehatan ini merupakan penerapan dari teknologi telemedicine. Teknologi wireless mendorong telemedicine semakin besar karena cocok digunakan di Indonesia memiliki jarak yang berjauhan,” ucapnya. Peran data dalam telemedicine ini menjembatani antara ekspektasi dengan informasi dari berbagai sumber. Apapun aktivitasnya, baik secara teknologi maupun medis, semua yang diharapkan yaitu kepuasan pasien. Pada prinsipnya kita akan menuju satu era di mana layanan secara digital dapat melayani semua masyarakat.
Kemudian dr. Dyah Mustikanin Pitha Prawesti, SpOG, MHSM, MRCOG selaku Chelsea & Westminster Hospital London UK memaparkan pendapatnya mengenai perspektif sebagai seorang klinisi. Layanan kesehatan National Health Services yang diterapkan di London sudah digratiskan melalui pendanaan dari pajak. “Memang tidak dapat dipungkiri bahwa praktisi kesehatan terutama para klinisi tidak sedikit yang resisten terhadap perubahan, termasuk didalamnya mengadopsi teknologi informasi dan digitalisasi dalam praktek kesehariannya. Telemedicine perlu menjadi perhatian bagi para pembuat kebijakan untuk digunakan di Indonesia.”
Kemudian Rizal Maidin dari Admedika-Telkom Group juga menjelaskan apa saja yang sudah berjalan di Telkom Group terkait Telemedicine. Ada beberapa sektor kesehatan yang sudah disiapkan oleh Admedika untuk kedepannya. “Digital Health ini sudah ada dari tahun 2018, jadi sampai saat ini kami masih menerapkannya. Sejak adanya wabah covid ini, aplikasi telemedicine meningkat tajam, termasuk di Indonesia,” ucapnya.
